Jesus is the Only Saviour/ Yesus Satu-Satunya Juruselamat

“Intelligent Design:  Ortodoksi Masa Lampau,
Ajaran Sesat Masa Kini”
[1]

Oleh William A. Dembski, Ph.D., M.Div.

Associate Research Professor pada Conceptual Foundations of Science,

Baylor University

 

Transkrip yang telah diedit dari kuliah yang diberikan  pada hari Sabtu, 17 Januari  2004, jam 10:00. di Grace Valley Christian Center, Davis, California sebagai bagian dari seri Faith and Reason (Iman dan Rasio) yang disponsori oleh Grace Alive! dan Grace Valley Christian Center

http://www.gracevalley.org/sermon_trans/Special_Speakers/Intelligent_Design_Todays_Heresy.html

Bagaimana Iman Hilang

            Saya akan memulai kuliah ini dengan sebuah kisah pengalaman saya lebih dari dua puluh yang lalu, yaitu tahun 1980, yang telah mendorong saya untuk melakukan apa yang sedang saya lakukan sekarang[2]. Saya baru saja menjadi Kristen sekitar setahun sebelumnya. Sementara berjalan – jalan di sebuah jalan raya Chicago pada satu hari, saya bertemu dengan dua pemuda. Saya baru berumur 19 tahun waktu itu, dan mereka sudah berumur dua puluhan awal. Saya mulai terlibat pembicaraan dengan mereka tentang klaim Kristus, dan membahas tentang siapa Kristus bagi saya dan siapa Dia seharusnya bagi mereka. Pada saat itu mereka agak terlalu banyak minum dan pada saat saya berbicara, mereka mulai menertawakan saya. Namun setelah beberapa saat kemudian mereka mulai menangis. 

            Ternyata kedua orang tersebut adalah lulusan Wheaton College dan pada saat itu mereka sudah menjadi mahasiswa di salah satu seminari di Hyde Park. Hyde Park adalah tempat dimana University of Chicago berada dan di sana terdapat sekitar tujuh sekolah teologia. Saya pikir mereka baru berada pada tahun pertama kuliahnya. Namun demikian, mereka telah kehilangan imannya dan mereka benar – benar menangis secara harafiah. Mereka berkata pada saya, “Kami berharap kami masih bisa percaya seperti engkau, namun kami sudah tidak bisa lagi.”

            Apa yang terjadi dengan iman mereka? Bukankah mereka sebelumnya belajar di Wheaton College, yang merupakan salah satu kolese Kristen Injili utama di negara ini, dan bukankah sekarang mereka sedang belajar di seminari? Namun hanya dalam jangka yang sangat singkat iman mereka tampaknya sudah berantakan. Karena saya telah menjalani kurikulum pendidikan di seminari mainline yaitu di Princeton, maka saya berani menyatakan bahwa ada dua hal yang seseorang dapatkan di sebuah seminary seperti di atas, yang pada akhirnya meruntuhkan iman. 

           Pertama, anda mempelajari kritik Alkitab. Anda akan diajarkan bahwa kitab – kitab dalam Alkitab adalah campur aduk dari berbagai sumber sejarah (historis) yang digabung-gabungkan oleh komunitas keagamaan demi berbagai kepentingan teologis. Gagasan tentang Allah yang secara berdaulat menjaga / mengarahkan naskah – naskah ini dan menggabungkannya, dan gagasan bahwa naskah – naskah ini benar dan secara tepat berbicara berbicara tentang Allah yang turut campur tangan dalam sejarah, telah menghilang dari sana. Dengan demikian, jika anda mengambil kursus Perjanjian Lama tentang Yesaya misalnya, anda akan diajarkan bahwa terdapat beberapa orang Yesaya, bukan hanya satu orang saja, karena dalam Yesaya pasal 40 dan seterusnya terdapat nubuatan yang meramalkan tentang seorang raja yang bernama Koresh. Karena Yesaya hidup pada tahun 750 SM., dan Koresh belum muncul sampai abad keenam SM, maka Yesaya pasal 40 dan pasal setelahnya pastilah ditulis setelah masa Koresh karena tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan masa depan. Inilah kerangka berpikir kritik Alkitab.

            Kedua, disamping kritik Alkitab, anda akan diajarkan pandangan dunia yang materialistik atau naturalistik. Sebenarnya, pandangan dunia yang materialistik atau naturalistiklah yang melahirkan kritik Alkitab. Kritik Alkitab merupakan konsekuensi logis dari pandangan dunia yang materialis, dan telah membawa kepada berbagai kisah ‘penciptaan’ dan evolusi tentang bagaimana kita ada seperti saat ini. 

Dampak Dari Kesalahan Konsep

            Saya ingin membandingkan antara pandangan dunia Kristen ortodoks dan  pandangan dunia materialis. Untuk mengarahkah diskusi ini, saya akan membacakan satu ayat, yaitu Yohanes 3:12. Konteks ayat ini adalah Nikodemus yang mendekati Yesus, dan bertanya, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah. Bagaimana Engkau melakukan tanda – tanda yang Engkau sudah lakukan? Apa yang sedang terjadi disini?”  Yesus mengatakan, “Engkau harus dilahirkan kembali.”  Kemudian Nikodemus mengatakan, “Bagaimana itu mungkin?”  Setelah itu baru muncul jawaban Yesus dalam ayat yang saya sebutkan, “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?” 

            Menurut saya ada sebuah prinsip yang mendalam di dalam perkataan ini. Sejarah Keselamatan, seperti yang dinyatakan dalam Alkitab, datang melalui dunia fisik — melalui pengalaman, lewat sejarah. Jadi kalau kita tidak memahami apa yang sementara terjadi di sini dan pada saat ini, di dalam dunia fisik, maka pengetahuan kita akan hal – hal rohani tidak akan memadai. Jadi pemahaman akan hal fisik ini menjadi sangat penting. Kalau kita memahami sejarah alam secara salah, dan berpikir bahwa sebuah kisah evolusi yang naturalistik dan materialistik merupakan sebuah kebenaran, maka kita akan memiliki pendapat yang salah mengenai hal – hal duniawi. Pemahaman terhadap hal – hal duniawi memiliki dampak yang sangat besar terhadap pemahaman kita akan hal – hal rohani.

Pandangan Dunia:

            Mari kita mencoba untuk memikirkan tentang hal ini dalam terang kisah mahasiswa Wheaton College di atas. Di atas saya mengatakan bahwa mereka belajar tentang pandangan dunia yang materialistik di seminari. Hal ini sangat sering terjadi, bukan hanya di seminari - seminari namun juga di seluruh dunia akademik. 

Apa saja yang pada umumnya menjadi bagian dari sebuah pandangan dunia, dan pandangan dunia yang manakah yang tepat? Ada sebuah buku yang berguna yang saya rekomendasikan untuk anda yaitu buku yang ditulis oleh Charles Colson dan Nancy Pearcey, berjudul, How Now Shall We Live?(Lalu Bagaimana Seharusnya Kita Hidup?), dimana Colson menyatakan bahwa pandangan dunia memiliki empat komponen.

            Pertama – tama, pandangan dunia melibatkan kisah tentang penciptaan yang menjelaskan tentang asal usul kita: Bagaimana kita ada? Kedua, pandangan dunia melibatkan kisah yang menjelaskan tentang masalah yang dihadapi: Mengapa kita berada dalam masalah seperti yang kita hadapi? Jika segala sesuatunya sempurna, maka tidak perlu untuk berpikir tentang pandangan dunia. Namun kita mendapati berbagai masalah; pertanyaannya adalah bagaimana masalah tersebut sampai ada? Ketiga, pandangan dunia bertanya: Apa solusi untuk masalah yang dijumpai? Akhirnya, pandangan dunia bertanya: Kemana segala sesuatunya akan berakhir? Jadi ada empat pertanyaan, yang merupakan empat komponen dari sebuah pandangan dunia. Dari perspektif seorang Kristen anda dapat menyebutnya sebagai Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan, dan Eskatologi atau akhir dari segala sesuatunya.

-- Pandangan Dunia Kristen

            Dalam pandangan dunia Kristen, Allah berdasarkan kebijaksanaanNya telah menciptakan dunia. Kita ada demi tujuan tertentu. Kejatuhan terjadi bukan hanya karena keterbatasan ciptaan — yang dalam perjuangan hidupnya — harus melewati berbagai kesulitan. Namun, kejatuhan terjadi karena dalam pemberontakannya terhadap Allah, manusia telah membawa kejahatan ke dalam dunia ini, dan kejahatan ini bukan hanya kejahatan pribadi, namun juga kejahatan yang terejawantahkan dalam kejahatan alam. Jadi, kejahatan dan penderitaan secara mutlak bukan merupakan akibat dari sejenis kekuatan alam atau rasa sakit yang meningkat, namun akibat dari pemberontakan yang sadar terhadap Allah. Ini merupakan ajaran kekristenan ortodoks. 

            Solusi untuk masalah ini adalah Penebusan oleh Yesus Kristus. Allah telah menjadi manusia, menanggung dosa dunia di atas kayu salib, dan mati demi kehidupan dunia. Inilah pengertian penebusan. Penebusan bukan satu ‘perbaikan’ dalam pengertian psikoterapi atau penggunaan zat kimia untuk membantu memperbaiki proses kimia dalam otak supaya menjadi normal kembali. Solusi – solusi tersebut bukanlah solusi mutlak dari sudut pandang kristen. Tujuan hidup kita adalah bersekutu dengan Allah. Pengakuan Iman Katekismus Westminster menyebutnya sebagai menikmati dan menyembah Allah selama – lamanya. Visi kekristenan adalah persekutuan dengan Allah dan kita berhadapan denganNya muka dengan muka. Inilah visi agung Kristen. 

-- Pandangan Dunia Materialis

          Visi materialis tidak semulia itu. Visi materialis mengajarkan tentang sebuah dunia materi yang tidak berpikiran yang senantiasa ada, dan yang melalui proses evolusi yang buta telah menghasilkan manusia. Menurut pandangan dunia materialis, apakah masalah manusia? Apakah kejatuhan itu? Kesulitan atau masalah apa yang kita hadapi? [Menurut mereka] masalahnya terletak pada proses evolusi yang pada dirinya sendiri sudah janggal. Pada saat manusia mengalami evolusi, terjadi kesalahan dalam mekanisme genetik sehingga misalnya, terjadilah penyakit. Ini merupakan kesulitan yang terus berkembang akibat evolusi. 

           Karena itu, pada saat ini kita bahkan mendengar orang berbicara mengenai melampaui (transendensi) tubuh. Ray Kurzweil berargumen bahwa dalam jangka waktu dua puluh tahun, kemampuan komputer akan melebihi kemampuan otak manusia dalam hal komputasi, dan pada jaman tersebut komputer akan mengungguli manusia dan memiliki kesadaran, sedemikian rupa sehingga andaikata kita agak sedikit beruntung, kita hanya akan menjadi semacam binatang piaraan para komputer tersebut. Jadi, menurut Kurzweil, solusi terbaik adalah mentransfer diri kita ke dalam komputer dan melepaskan tubuh fisik (perangkat basah) kita samasekali. 

            Saya tidak sementara bercanda—visi ini sudah berada di luar sana, dan orang mempercayainya. Namun saya pikir ini adalah sesuatu yang mutlak salah sangka. Saya pikir inteligensia manusia, kemanusiaan manusia, dan kesadaran manusia, tidak dijelaskan dengan tubuh fisik kita. Saya jauh lebih setuju dengan rasul Paulus, yang menyatakan bahwa tubuh kita seperti pakaian dan realitas kita yang mendasar bersifat rohani; tubuh kita tidak dapat direduksi menjadi kompleksitas dan komputasi. Saya berpendapat bahwa tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa kerumitan (kompleksitas) dan komputasi dapat menjelaskan kesadaran. Tentu saja ada korelasi antara kerumitan dan komputasi—kita memerlukan otak kita untuk berpikir dan melakukan banyak hal. Kalau sebuah peti besi jatuh ke kepala kita, maka kita tidak akan bisa mengekspresikan inteligensia kita. Namun hal itu adalah masalah berbeda. Hal itu menyangkut hubungan korelasi dan sebab-akibat, yang menurut saya telah hilang dari masyarakat ilmiah neurosains kognitif. 

            Solusi materialistik terhadap kekacauan yang diakibatkan oleh evolusi adalah dengan mengutak – atik unsur fisik kita. Hal itu dilakukan dengan terapi dan bahan kimia. Dan apakah visi ke depan dari semua ini? Mungkin anda telah dapat menebaknya—tidak ada!  Masa depan pandangan dunia yang materialistik adalah leburnya segala sesuatu. Bertrand Russell berbicara mengenai kematian alam semesta yang mengenaskan, dimana segala sesuatu akan mencapai semacam kesetimbangan entropis, dan semua aspirasi dan harapan kita akan perlahan – lahan menghilang. Sebenarnya kita tidak perlu menunggu sampai kematian alam semesta yang mengenaskan. Dalam sistem Tata Surya kita saja, matahari akan berubah menjadi raksasa berwarna merah dalam jangka waktu lima miliar tahun dan menghanguskan bumi. Jadi hal ini lebih cepat dari yang diperkirakan, kecuali kita bisa pindah ke sistem galaksi lainnya. Namun menurut saya hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Itulah yang ditawarkan oleh pandangan dunia yang materialistik bagi kita.

Konteks Historis:

            Dengan demikian, jelas bahwa pandangan dunia yang materialistik yang ditemui di seminari – seminari mainline bertentangan dengan pandangan dunia Kristen yang ortodoks. Namun berikut ini saya ingin menempatkan kedua pandangan dunia ini lebih ke dalam sebuah konteks historis. Saya sering berpikir bahwa kita cenderung berpendapat bahwa pandangan dunia yang materialistik merupakan perkembangan baru akibat pengaruh sains moderen, dimana sains dipandang telah memberikan kita bukti positif bahwa sains adalah satu – satunya cara yang tepat untuk memandang dunia. Namun dalam kenyataannya, sains tidak pernah memberikan kepastian semacam itu. Setiap pandangan dunia merupakan serangkaian pra anggapan dasar (presuposisi fundamental), asumsi filosofis dan metafisik tentang dunia, yang dapat dirunut kembali dari asal – usul / sejarah filosofis dan juga tradisi keagamaan.

-- Tradisi Keagamaan

            Saya akan mulai dari tradisi keagamaan. Jika anda belajar tentang Kitab Kejadian di seminari mainline, anda akan diberitahu bahwa kitab Kejadian sebenarnya hanya merupakan campur – aduk dari berbagai sumber di Timur Tengah, yang memiliki kesejajaran dengan kisah mitos di Babel dan daerah Timur Dekat lainnya. Salah satu mitos yang biasanya digunakan [untuk pembanding] disebut Enuma Elish, yang merupakan kisah tentang bagaimana Marduk, menjadi kepala atas para dewa. Tentu saja, akan ada sejumlah kesejajaran dalam kisah – kisah ini, karena Alkitab serta mitos – mitos tersebut berasal dari daerah Timur Dekat. Namun demikian, walaupun ada kesamaan unsur, terdapat perbedaan mendasar yang akan saya bahas secara khusus berikut ini. 

            “Enuma elish” adalah kata – kata pembuka dari puisi. Kata – kata tersebut berarti “pada saat di atas”  Puisi tersebut berbicara tentang asal – usul dunia, dan berupaya untuk membela Marduk sebagai kepala para dewa Babel. Puisi tersebut dimulai dengan Tiamat dan Apsu, yang merupakan garam dan air tawar. Perhatikan bahwa puisi ini dimulai dengan kekuatan alam dan material. Pada saat garam dan air bergaul / bergabung, terdapat sejenis kehidupan bersama sebagai suami istri, dan dari hubungan ini muncullah generasi pertama dari para dewa. Sejalan dengan bertambahnya jumlah para dewa, mereka saling membunuh dan melakukan berbagai hal. Dari satu generasi ke generasi lain anda akan selalu mendapatkan dewa – dewa baru, dan kalau anda terus membaca, anda akan menemukan bahwa para dewa ini menjadi lebih sadar dan cerdas, sampai akhirnya anda mendapatkan kepala dari para dewa yaitu Marduk.

           Perhatikan apa yang terjadi. Kisah tersebut tidak dimulai seperti Kitab Kejadian dengan “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi;” atau dengan Allah yang menciptakan dunia dengan firmanNya; atau dengan Allah yang sadar, cerdas, dan berpribadi sebagai sumber dari segala sesuatu, dan segala sesuatu kemudian diciptakan sesuai dengan kebijakan dan pengetahuan Allah. Namun dalam kisah ini, kecerdasan muncul sebagai produk sampingan dari gaya – gaya alamiah yang menyusun diri sendiri. Jadi, kita lihat ada kisah evolusi dalam kisah Enuma Elish. Saya tidak mengada – ada, kisah evolusi memang diajarkan di sana. 

            Kita juga menemukan hal ini di dalam mitos – mitos dan tradisi keagamaan lainnya di dunia kuno. Hesiod, yang hidup setelah Homer, menulis Theogony untuk menjelaskan bagaimana pada dewa muncul. Dia memulai dengan sebuah lubang yang tidak berdasar, atau kekacauan, kemudian bumi dan langit serta Gaia dan Uranus, yang menjadi pasangan suami / istri. Pasangan ini menghasilkan satu generasi dewa, dan semakin banyak lagi dewa yang kemudian berakhir menjadi para dewa di Gunung Olympus. Jadi, di sini kita temukan lagi perkembangan dari gaya – gaya alamiah dan kesederhanaan purba (primeval simplicity) menjadi agen – agen yang cerdas. Lintasan ini selalu menjadi lintasan materialisme. Anda harus menjelaskan yang kompleks—yang bermakna dan bertujuan—sebagai hasil dari kesederhanaan purba.

            Pandangan dunia kristen dan pandangan dunia teistik lainnya pada umumnya berseberangan dengan pandangan dunia materialis. Pandangan dunia teistik menyatakan bahwa Allah yang berpribadilah yang mengendalikan segala sesatu, bukan kesederhanaan purba (primeval simplicity). Menurut pandangan dunia teistik andaikatapun ada proses evolusi, maka Allah jugalah yang mengendalikannya. Anda tidak bisa mendapatkan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada. Mendapatkan sesuatu dari ketiadaan sebenarnya merupakan apa yang dikejar – kejar penganut ajaran materialis. Mereka mencari pelarian mutlak

-- Tradisi Filosofis

            Bagaimana dengan tradisi filosofis?  Kalau anda kembali ke jaman awal filsafat, yang biasanya didefinisikan sebagai masa pra – Sokrates, anda akan mendapati bahwa adanya pertentanngan yang sama dengan pertentangan yang terjadi di dalam tradisi agama, walaupun manifestasinya berbeda. Terdapat beberapa filsuf atomistik, materialistik seperti Demokritus dan Leukippus, yang mengatakan bahwa dunia pada dasarnya merupakan zat yang bergerak, dan bahwa seiring dengan bergeraknya berbagai partikel yang tidak dapat dipisah – pisahkan ini (atom) kian kemari, mereka mengorganisir diri sendiri, sehingga muncul obyek – obyek seperti manusia atau obyek lainnya. Namun ada pula filsuf seperti Anaxagoras, yang mengajarkan bahwa pikiran merupakan satuan mendasar yang darinya muncul segala sesuatu. 

Orang yang paling mewakili tradisi filsafat materialis mungkin adalah Epikurus, yang hidup sekitar 350 SM. Kalau orang berpikir tentang Epikurus dan pengikutnya, kebanyakan mereka membayangkan hedonisme, yaitu pencarian kepuasan yang tidak terkendali, dan jika mereka disuruh untuk memilih orang masa kini yang mewakili Epikurus, mungkin mereka berpikir tentang Hugh Hefner[3] atau orang yang mirip dengan Hugh. Namun itu tidaklah tepat.

            Yang menjadi faktor pendorong bagi Epikurus adalah kedamaian dan ketenangan yang menurutnya hanya akan tercapai bila tidak ada dua unsur:  Pertama, tidak ada satu dewa / ilah atau para dewa yang campur tangan dunia materi, karena tidak akan ada ketenangan di dunia apabila terdapat dewa yang secara tidak terduga turut campur tangan. Epikurus menginginkan sebuah dunia hanya beroperasi dengan hukum – hukum yang dapat diandalkan, sehingga kedamaian dan ketenangannya tidak tergganggu. Hal kedua yang tidak boleh ada menurut Epikurus adalah kehidupan setelah kematian bersama dengan satu Allah yang kepadaNya kita harus mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan selama hidup. Epikurus tidak menginginkan hidup dalam kekekalan dengan menanggung sejenis hukuman.

            Sangat menarik untuk membaca tulisan Epikurus, karena dia merumuskan fisika dan metafisika materialistik untuk mendukung kedua keinginannya di atas. Dia menetapkan apa yang menurut standar moderen tampaknya merupakan asal – mula dari sains materialistik yang baru berkembang pada zaman kita. Dunia dipandang sebagai dunia yang beroperasi berdasarkan hukum – hukum fisika yang dapat anda andalkan, tanpa intervensi Allah. Namun dia sendiri tidak menyangkal keberadaan para dewa. Dia hanya percaya bahwa mereka terlalu jauh dan terlalu tinggi dan berada di dunia lain sehingga tidak tertarik dengan apa yang terjadi di bumi. Karena itu para dewa tersebut tidak terlibat dalam urusan manusia. Kita juga melihat kecenderungan ini dalam teologi moderen, dimana tidak ada kekuasaan Allah yang nyata yang terlibat dalam dunia ini. Allah adalah sesuatu “yang berada di luar sana”, sesuatu yang tidak memiliki hubungan langsung dengan kehidupan kita.

            Saya akan memaparkan salah satu catatan historis lagi. Karl Marx, seorang filsuf materialis dan materialis dialektik yang gagasannya telah membuai sekitar 1.5-2 miliar manusia, menulis disertasi doktoralnya tentang Demokritus dan Epikurus. Saya menyebutnya hanya supaya anda mengetahui bahwa gagasan ini jauh berasal dari masa lampau. Marx juga ingin mendedikasikan edisi Bahasa Inggris dari bukunya Das Kapital kepada Charles Darwin.  Dengan demikian kita melihat adanya keterkaitan yang menarik di sini. 

            Filsafat materialistik Epikurus sangat jelas manifestasinya dalam dunia kuno. Orang – orang yang telah saya sebut di atas hanyalah orang Yunani, namun gagasan ini juga ada di antara orang Romawi. Lukretius mungkin merupakan orang yang dikenal paling mewakili gagasan ini sampai zaman kita, karena sebuah puisi yang ditulisnya yang memuji materialisme. Namun saya berpendapat bahwa gagasan ini tidak sepopuler sekarang pada  masa lampau. Terdapat tradisi Plato, Aristotle, dan Stoics yang menolak pandangan dunia yang materialistik dan menyatakan bahwa terdapat tujuan yang mendasar di dalam dunia; ada teleologi; terdapat tujuan yang telah tertanam di dalam dunia. 

            Jadi Epikurus dan para pengikutnya dicemooh di sepanjang sejarah dunia kuno. Menjelang jaman Bapak – Bapak Gereja, yaitu sekitar 300-400 tahun setelah Kristus, Epikurus tidak memiliki pengaruh. Pada jaman Agustinus dan Bapak Gereja di Kapadokia, para elit intelektul di dunia Mediterrania merupakan orang Kristen yang tidak memiliki waktu untuk pandangan dunia ini. Namun gagasan – gagasan ini tidak pernah hilang. Menurut hemat saya, pada Masa Renaisans dan kebangkitan sains moderenlah Epikurus dan warisannya berupa materialisme muncul kembali. 

            Kenapa saya mengemukakan ringkasan historis ini?  Karena informasi ini penting untuk memahami sejarah. Isu yang kita bahas dalam menentang materialisme dan naturalisme bukanlah sesuatu yang baru muncul ke permukaan; namun sebenarnya merupakan isu – isu lama yang berpengaruh terhadap agama, filsafat dan bahkan terhadap sains pada jaman kita.

Bangkitnya Filsafat Mekanis

            Bagaimana Epikurus “bangkit kembali” seiring dengan bangkitnya sains moderen?  Saya memahaminya sebagai berikut. Seiring dengan bangkitnya sains moderen terjadi sebuah pergerakan menuju pemahaman tentang dunia fisik—yaitu susunan dan dinamika materi. Seiring dengan majunya sains, semakin mudah untuk membuat model matematis dari gagasan tentang partikel yang bergerak, yang merupakan gambaran atomistis dan materialistik dari Demokritus, Leukippus, Epikurus, dan Lukretius.  Sebagai contoh, pada saat Isaac Newton berusaha memahami orbit planet – planet di sekeliling matahari, dia menganggap partikel bergerak sebagai massa titik dan kemudian membuat rumus matematis untuk menjelaskan bagaimana sesuatu bergerak mengelilingi sesuatu yang lain sehingga dia dapat muncul dengan teori gravitasi universal dan mekanika.

            Dengan demikian, pada saat sudah tepat waktunya bagi sains untuk berpikir berdasarkan partikel yang bergerak, maka muncullah “filsafat mekanis”.  Dengan menyebut “filsafat,” saya merujuk pada apa yang kini kita sebut sebagai sains. Penggunaan kata sains dengan makna penyelidikan dunia alamiah baru berumujr sekitar 150 sampai 170 tahun. Dulu sains biasanya disebut “filsafat alamiah,” untuk membedakannya dengan filsafat moral atau logika. Sains merupakan filsafat alamiah, atau filsafat dunia alamiah. Karena itu sampai hari ini, kebanyakan gelar doktor yang diberikan adalah Ph.D. baik untuk bidang matematika, kimia maupun biologi.  Ph.D merupakan singkatan dari “doctor of philosophy”. 

            Jadi pada awalnya sains disebut filsafat alamiah. Namun kemudian muncullah filsafat mekanis, dan diusulkanlah sains mekanika yang menyelidiki bagaimana interaksi, kerjasama dan gerak antar benda, serta teori mekanika yang sesuai dengan pandangan dunia yang materialistik.

            Menariknya, banyak yang menjadi pendukung teori ini adalah orang Kristen, atau sekurang – kurangnya kaum teis.  Ada Isaac Newton yang merupakan penganut Arianisme  yang menolak Trinitas, namun tentunya percaya bahwa mujizat yang tercatat dalam Alkitab bernar – benar terjadi dan tidak pernah mencoba menolak Allah.  Kemudian ada pula Robert Boyle, yang merupakan ahli seorang kimia terkemuka dan orang Kristen saleh yang mengajarkan bahwa, setidak – tidaknya dari sudut pandang sains, bahwa konsep mekanis ini merupakan satu yang baik. 

            Saya hanya ingin anda menyadari bahwa filsafat mekanis ini diajukan oleh orang Kristen, namun sebenarnya filsafat ini mengandung bibit – bibit pertentangan yang pada akhirnya mencengkram leher kekristenan sendiri. Ijinkan saya untuk menunjukkan kepada saudara bagaimana hal itu terjadi, karena saya pikir hal itu akan merupakan studi historis yang menarik.

Teologi Alamiah

            Robert Boyle, yang merupakan salah seorang pendukung filsafat mekanis, hidup pada jaman yang sama dengan Isaac Newton yaitu pada akhir tahun 1600an. Dia juga merupakan penyokong terkemuka dari apa yang disebut sebagai “teologi alamiah,” walaupun sebenarnya yang menjadi penyokong yang paling terkenal dari teori ini sampai jaman kita adalah seorang yang bernama William Paley, yang membuahkan sebuah tulisan yang terkenal sekitar 120 tahun setelah Robert Boyle. Tulisan tersebut adalah Natural Theology (Teologi Alamiah), diterbitkan pada tahun 1802. Sub judul buku tersebut yang dengan sempurna menggambarkan tentang proyek teologi alamiah adalah: On the Existence and Attributes of the Deity Collected from the Appearances of Nature (Tentang Keberadaan dan Atribut (sifat) Ilahi Berdasarkan Apa yang Nampak di Alam). Pada dasarnya, Paley menanyakan pertanyaan:  Apakah Allah ada, dan apakah yang dapat kita ketahui tentang sifat Allah ini? 

           Bagaimana Paley menjawab pertanyaan ini? Dia menjawabnya dengan mempelajari apa yang nampak di alam. Inilah proyek teologi alamiah. Anda melihat dunia fisik dan bertanya, “Apakah ciri – ciri dunia fisik mengarahkan kita kepada Allah, mendemonstrasikan keberadaan Allah, atau mendemonstrasikan atribut / sifat – sifat Allah, seperti kemahatahuan dan kebijaksanaanNya?”

            Apakah kita dapat melakukannya dari alam? Bagi teolog – teolog alamiah dari Inggris mulai dari Boyle sampai Paley, itu merupakan suatu proyek yang masuk akal / absyah. Namun proyek ini tidak kesampaian, dan saya berpendapat bahwa hal itu dikarenakan filsafat mekanis yang dianutnya.

             Sejauh pemikiran orang – orang seperti Boyle atau Newton, zat yang bergerak tidak cukup untuk menjelaskan tentang dunia. Zat – zat tersebut harus pada awalnya diatur oleh Allah. Harus yang Ilahilah yang menciptakan segala sesuatu.  Jadi apabila anda melihat sistem biologi, tidaklah cukup untuk menjelaskannya berdasarkan zat yang bergerak, namun Allah sebenarnya telah membentuknya, menyediakan kondisi awal dan kondisi pembatas. Allah pastilah melakukan sesuatu.

            Masalahnya adalah, pandangan ini berakhir dengan sebuah perkawinan antara intervensionisme ilahi[4] dan filsafat materialisme, dan perkawinan ini tidak bertahan lama. Anda dapat memahami alasannya dengan memperhatikan contoh yang terkenal yang dikemukakan oleh Paley tentang bagaimana argumen desain bermanfaat dalam teologi alamiah. Anda mungkin pernah mendengar tentang contoh yang terkenal “argumen pembuat jam tangan”  Contoh itu merupakan pembukaan dari Teologi Alamiah Paley. 

Metafora Pembuat Jam Tangan

            Argumen pembuat jam tangan adalah sebagai berikut: bayangkan seorang berjalan melewati sebuah ladang / lapangan dan menjumpai sebongkah batu. Orang tersebut pasti akan berpikir bahwa batu tersebut berada di sana sudah sejak lama. Namun bayangkanlah seseorang berjalan melewati sebuah ladang / lapangan namun menjumpai sebuah jam tangan. Orang tersebut pasti tidak akan mengambil kesimpulan yang sama dengan kesimpulan di atas melainkan akan berpikir bahwa jam ini dirancang untuk tujuan tertentu yaitu untuk menyatakan waktu. Jadi batu dan jam tangan memiliki ciri – ciri tertentu yang akan membedakan keduanya. Anda akan menghubungkan jam tangan tersebut dengan agen yang cerdas, namun anda tidak memiliki alasan atau jaminan untuk menghubungkan batu tersebut dengan agen yang cerdas. 

            Di situlah letak perbedaannya. Di atas permukaan tampaknya argumen ini sangat absyah. Dalam kehidupan sehari – hari, kita melakukan pembedaan seperti di atas sebagai bagian dari rasionalitas dasar manusia—kita mencoba untuk membedakan antara produk kekuatan yang cerdas dan produk dari kekuatan alamiah murni. Kita bisa bertanya apakah segumpal batu merupakan sebuah mata panah ataukah hanya segumpal batu yang secara acak berada di sana? Atau apakah sebuah gundukan tanah merupakan sebuah kuburan atau hanya gundukan yang terbentuk secara acak? Setiap saat kita melakukan pembedaan – pembedaan seperti di atas. 

            Namun coba kita ajukan pertanyaan pendalaman lebih lanjut. Jika Allah adalah Allah yang sempurna dan mahabaik, jam semacam apa yang akan diciptakanNya? Pastilah jam tangan yang sempurna, jam tangan yang tidak memerlukan penyetelan namun yang secara tepat menunjukkan waktu. Kalau kita mengajukan pertanyaan seperti ini, kita sadar bahwa tidak diperlukan campur tangan Allah setelah jam tangan tersebut telah selesai dibuat. 

            Metafora jam tangan ini juga digunakan untuk mewakili alam semesta. Dalam model Newtonian atau mekanistik, alam semesta dipandang sebagai sebuah jam raksasa. Namun andaikata alam semesta seperti sebuah jam tangan, dan Allah adalah pembuat jam tangan tersebut, maka kita mengharapkan bahwa jam tersebut adalah jam sempurna dan yang tidak memerlukan penyetelan.

            Dengan demikian tiba – tiba saja kita telah berpindah dari teisme ke deisme. Deisme menggambarkan Allah sebagai tuan tanah yang tidak ada di tempat dan yang tidak perlu melakukan apapun untuk ciptaanNya, karena ciptaan itu berjalan secara sempurna.

Metafora yang Lebih Baik

            Saya lebih mengagumi para Bapak Gereja daripada William Paley. Saya memang menyukai Paley dan berpendapat bahwa dia memberikan banyak gagasan bagus. Namun dalam banyak segi, metafora jam tangan Paley patut disayangkan. Metafora ini salah, karena dunia tidak sama dengan jam tangan. 

Para Bapak Gereja tidak menggunakan metafora jam tangan melainkan alat musik.  Saya pikir Gregory dari Nazianzus, dalam orasi teologinya yang kedua, mengemukakan argumen desain yang sebenarnya sejajar dengan argumen William Paley, namun dia menggantikan jam tangan dengan kecapi. Pembuat kecapi membuat kecapi, namun tidak sampai disitu saja. Pembuat kecapi itu kemudian juga memainkannya. 

            Metafora ini mempunyai implikasi yang sangat besar, karena adalah sesuatu yang wajar untuk memainkan atau berinteraksi dengan kecapi pada saat kecapi telah diciptakan. Karena itulah saya pikir metafora ini jauh lebih baik dibanding dengan metafora jam tangan. Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Allah bukanlah tuan tanah yang tidak berada di tempat. Allah menciptakan dunia namun juga berinteraksi dengan dunia.

            Metafora jam tangan merupakan satu metafora yang kita dapatkan dari filsafat mekanis, dimana segala sesuatu bekerja secara otomatis, sesuatu benda menabrak yang lain sebagai reaksi berantai, sehingga sistem tersebut bekerja dengan kekuatannya sendiri.  Kalau anda mempunyai sebuah jam yang sempurna dan yang menyatakan waktu secara sempurna dan tidak memerlukan penyetelan, maka jam itu akan terus berjalan selama - lamanya.  Namun kecapi serta instrumen musik lainnya, anda masih memerlukan pemain; kalau tidak maka alat musik itu akan tidak bermanfaat. Kecapi itu tidak lengkap tanpa pemain kecapi.    

Sebuah Jam Tangan Yang Menciptakan Diri Sendiri

            Paley adalah seorang penganut teis, namun mudah untuk memahami mengapa teologi alamiah ala Paley semakin mendekatkan jarak antara teisme dan deisme. Namun sekarang kita coba untuk menanyakan pertanyaan lebih lanjut: Jika sebuah jam tangan yang sempurna merupakan jam yang tidak pernah memerlukan penyetelan, bukankah sebuah jam tangan akan lebih sempurna bila bisa menciptakan diri sendiri? Sebuah jam tangan hanyalah sebuah obyek material yang bergerak. Obyek – obyek materi bergerak. Jadi mengapa tidak mengatakan saja bahwa obyek – obyek materi membangun jam tangan tersebut kemudian memampukan jam tangan tersebut untuk terus bekerja tanpa berhenti? Ada seorang yang bernama Kingsley yang menyatakan bahwa evolusi memang berasal dari Allah, namun mengatakan, “Allah menciptakan dunia yang menciptakan diri sendiri.” 

            Saya pikir anda sudah bisa menebak kemana arah dari pemikiran ini. Anda berpindah dari teisme ke deisme, namun pada saat anda telah memiliki jam tangan yang sempurna yang tidak membutuhkan Allah kecuali pada saat awal, mengapa tidak meneruskan pemikiran ini sehingga kita memiliki jam yang menciptakan diri sendiri? Saya pikir ke arah inilah sains bergerak.  Menjelang masa Darwin, anda mendapati pandangan tentang sebuah dunia dimana segala sesuatu menciptakan diri sendiri. Dan apa yang Darwin lakukan adalah memberikan kisah mengenai bagaimana terjadinya organisasi dan kompleksitas biologis.

            Sebenarnya terdapat dua hal yang Darwin wariskan kepada kita. Pertama, dia mengemukakan teori tentang sejarah alam. Dia mengatakan bahwa semua organisme saling dihubungkan oleh nenek moyang yang sama. Inilah yang disebut “pohon kehidupan yang besar.” Jadi, kalau anda melacak kembali nenek moyang dua organisme yang berbeda, anda akan mendapatkan bahwa keduanya berasal dari nenek moyang yang sama. Namun ada pertanyaan tentang bagaimana pohon tersebut bertumbuh, dan Darwin menawarkan teori seleksi alam dan variasi sebagai jawaban. Saya mengamati bahwa teori Darwin merupakan akibat logis apabila anda menganut teologi alamiah dan menggunakan metafora yang salah seperti halnya metafora jam tangan di atas. Kalau itu terjadi maka anda akan terbawa lebih jauh dari deisme, dan akhirnya seperti Darwin akan berakhir dengan agnostisisme, yaitu tidak mengetahui apa – apa. Posisi dimana anda menyatakan bahwa andaikatapun Allah ada, anda tidak tahu apa yang dilakukanNya. Menurut pandangan ini (agnotisisme), anda tidak dapat mengetahui apapun tentang Allah ini, karena Allah yang campur tangan di dunia ini sangat jauh. Dunia hanyalah sebuah tempat yang menciptakan diri sendiri. Saya pikir ke arah inilah pada akhirnya kita sampai. Dunia ilmu pengetahuan moderen sangat mendalam hubungannya dengan konsep dunia yang menciptakan diri sendiri dan bukan dengan konsep dunia yang diciptakan oleh Pencipta.

Ketidakmemadaian Materialisme

            Ijinkan saya untuk mengungkapkan apa yang saya percaya merupakan keadaan kita saat ini. Saya pikir kita telah mendapati bahwa konsep dunia menciptakan diri tidak lagi memadai. Agar gagasan bahwa dunia yang menciptakan diri sendiri bisa meyakinkan, anda perlu berargumen bahwa proses materi cukup memadai untuk menjelaskan tentang segala sesuatu di dunia. Untuk dapat melakukannya perlu ada proses reduksi ke hukum – hukum alamiah. Pada dasarnya, apa yang anda perlu katakan adalah bahwa untuk apapun yang terjadi, ada keadaan pendahuluan (anteseden) dan semacam hubungan serupa hukum (law like) yang akan membawa anda dari satu hal ke hal lain. Anda menjumpainya dalam hukum mekanika Newton. Sebagai contoh, bila anda menemukan orbit tertentu, maka pasti harus ada kondisi awal, yaitu sifat – sifat benda yang mengakibatkan adanya orbit. Atau kalau anda ingin menjelaskan beberapa kompleksitas biologis tertentu, maka pasti harus ada semacam kondisi latar, semacam tekanan seleksi alam, atau semacam variasi yang dapat menjelaskannya.

            Cara kerja penjelasan ilmiah di dalam kerangka kerja materialistik adalah bahwa selalu ada sejenis mekanisme material serta hubungan serupa – hukum yang menjelaskan bagaimana anda mendapatkan sesuatu yang ada sekarang. Kalau anda mencoba menjelaskan titik B, pasti ada titik sebelumnya yaitu titik A yang akan memberi penjelasan tentang titik B.

            Namun inteligensia tidak bekerja seperti itu. Mengapa Shakespeare menulis King Lear? Mengapa Michelangelo menciptakan patung Daud? Apa tepatnya penyebab awal yang mendorongnya? Hubungan semacam hukum apa saja yang berlaku? Apakah keadaan awal bagi Allah untuk menciptakan dunia? Sementara menurut materialisme, dunia adalah sebuah buku terbuka—segala sesuatu memiliki penjelasan yang patut dan dapat direduksi sepenuhnya menjadi keadaan anteseden dan hubungan serupa hukum —, intelligensia tidak bekerja seperti itu. Intelligensia bersifat bebas. 

            Namun itu tidak berarti bahwa prinsip alasan kuat boleh ditinggalkan. Hanya saja pada saat inteligensia merupakan alasan yang memadai, tidak dimungkinkan adanya reduksi. Jika Allah dalam kebijaksanaanNya menciptakan dunia, tidaklah masuk akal untuk menanyakan:  Apakah yang berada di balik kebijaksanaanNya?  Siapa yang merancang kebijaksanaanNya? Tidak ada apa – apa dibalik itu. Begitulah cara inteligensia bekerja. Inteligensia itu kreatif.  Inteligensia tidak membuka buku; inteligensia menulis buku. Inteligensia menciptakan informasi baru. Anda tidak dapat mereduksi inteligensia menjadi mekanisme materi. 

            Kalau saya diminta menyebutkan secara singkat apa yang terjadi di dalam gerakan Intelligent Design (ID), saya akan menyatakan ini:  kami di dalam gerakan ID menyatakan bahwa gambaran tentang dunia yang materialistik, yang sepenuhnya dikendalikan dan dijelaskan oleh mekanisme tertentu tidak lagi memadai, dan kita memiliki alasan baik yang kuat untuk menunjukkan ketidakmemadaian pandangan dunia tersebut berdasarkan alasan ilmiah. 

            Hal yang hampir sama pernah terjadi pada tahun 1930-an dalam bidang matematika, ketika seorang ahli matematika bernama Kurt Gödel menunjukkan bahwa ada pernyataan metamatis yang benar namun tidak dapat dibuktikan. Hal – hal yang dibuktikan dalam sains adalah hal – hal yang dapat anda jelaskan sesuai dengan mekanisme materi. Hasil kerja Gödel disebut “teorema ketidaklengkapan” karena teorema ini menyatakan bahwa ada kebenaran – kebenaran yang tidak tunduk kepada mekanisasi matematika. Demikian pula, mekanisasi sains tidak lengkap / memadai—tidak menjelaskan segala sesuatu.

 

Mendeteksi Inteligensia Melalui Rancangan (Design)

            Apa yang kita temukan saat ini melalui penelitian yang saya dan ahli lain lakukan, adalah bahwa terdapat cara yang dapat dipercaya untuk mendeteksi inteligensia. Kita melakukannya dalam berbagai keadaan. Sebelumnya saya telah memberikan beberapa contoh sederhana dari arkeologi: Apakah sebuah batu itu merupakan mata panah?  Atau apakah hanya sepotong batu? Mengapa Mt. Rushmore[5] tidak dapat dikatakan sebagai akibat angin dan erosi? Apa saja alasannya sehingga kita menyatakan bahwa satu benda merupakan hasil rancangan dan benda lain bukan hasil rancangan?

            Apa yang saya lakukan dalam penelitian saya adalah menawarkan kriteria matematis yang tepat sebagai cara untuk melakukan pembedaan ini. Apabila kita mampu mengidentifikasi tanda – tanda inteligensia, apa yang kita dapatkan apabila kita mulai mencarinya dalam sistem biologis? Tampaknya saat ini kita telah menemukan tanda – tanda inteligensia yang meyakinkan dalam biologi, dan kalau itu benar, maka tanda – tanda inteligensia ini tidak akan dapat sejalan dengan mekanisme materi. Dalam kenyataannya, alat yang kita gunakan untuk menunjukkan bagaimana tanda – tanda intelegensia dalam biology adalah juga analisis yang menunjukkan ketidakmemadaian Teori Darwin dan mekanisme materi. 

            Ijinkan saya untuk memberikan sebuah contoh. Terdapat mesin – mesin yang memiliki kompleksitas fungsional yang sangat tinggi di dalam semua sel. Satu mesin yang sangat banyak dikemukakan secara populer dalam gerakan Intelligent Design dikenal sebagai flagellum bakteri. Flagellum bakteri ini merupakan sebuah motor tempel yang berputar yang pada dasarnya memiliki sebuah baling – baling yang berputar sangat cepat, yaitu sekitar 20,000 rpm, dan dapat berubah arah dalam seperempat putaran. Mesin ini terdapat pada bagian belakang bakteri tertentu. Apabila anda menelitinya, jelas bahwa benda itu adalah mesin molekuler. Mesin ini memiliki sendi baling – baling, sebuah tangkai perseneling (a drive shaft), berbagai piringan yang termuat pada membran sel, dan sebuah perseneling yang digerakkan oleh asam (acid powered drive). Semua bagian ini harus berada pada tempatnya masing – masing agar mesin tersebut berfungsi. Bagian – bagian ini terintegrasi secara fungsional, sehingga anda tidak dapat mengeluarkan salah satu dari bagian – bagian tersebut dan mesin masih tetap berfungsi.  Kalau semua bagian ini tidak terpadu, tidak ada bahan mentah untuk dipakai dalam mekanisme seleksi alam (Teori Darwin). Lalu bagaimana mesin ini terjadi? 

            Seleksi Alam adalah satu – satunya perancang pengganti yang dimiliki para ahli biologi yang matetialistik. Namun apabila anda mulai menganalisis sistem seperti ini, anda menemukan bahwa sistem ini berada di luar jangkauan mekanisme alamiah, dan dalam kenyataannya sistem – sistem ini memiliki indikator kunci atau tanda – tanda inteligensia. Sistem – sistem dan analisis seperti inilah yang menunjukkan bahwa mekanisme materi yang sementara dicari – cari oleh filsafat mekanisme dan para penganut materialisme pada akhirnya tidak memadai.

Mengapa Orang Percaya?

            Kemana semua ini membawa kita, dan apa yang dibalik semua ini? Apa yang kita temukan adalah ada kesenjangan besar antar budaya massa dan budaya elit. Kalau saya mengatakan “budaya elit” saya sementara merujuk kepada National Academy of Sciences, media, dll. Sementara yang  saya maksud dengan “budaya massa” adalah orang kebanyakan di luar sana, yang sebagian besar percaya kepada Allah, yang mencoba untuk hidup dan tidak meninggalkan nilai – nilai dan kepercayaan tradisional Kristen. Saya akan mencoba untuk menjelaskannya lebih lanjut. Banyak Gallup poll (pengumpulan pendapat) telah dilakukan, dan hasilnya konsisten selama dua puluh tahun, dan apa yang ditemukan adalah bahwa hanya 10% penduduk yang menerima perspektif materialistik Darwin. Sekitar 90% dari penduduk percaya bahwa Allah telah menciptakan manusia dan kompleksitas yang ada di alam secara langsung lewat tindakan penciptaan, atau pun secara tidak langsung lewat proses evolusi.

            Saya mempunyai seorang kolega yang berseberangan dengan saya yang bernama Michael Shermer, yang adalah seorang skeptik professional, dan menulis sebuah buku beberapa tahun yang lalu berjudul How We Believe (Bagaimana Kita Percaya). Sebelum menulis buku tersebut dia melakukan sebuah poll (pengumpulan pendapat) di antara sepuluh ribu orang. Dia bertanya berbagai pertanyaan, namun dua pertanyaan yang sangat menyolok buat saya adalah: “Menurut anda mengapa orang [lain] percaya kepada Allah?” dan, “Mengapa anda sendiri percaya kepada Allah?”

            Untuk pertanyaan pertama:  “Menurut anda mengapa orang [lain] percaya kepada Allah?”  jawaban – jawaban berikut berada pada peringkat atas:  “Allah adalah tongkat penopang,”  “Allah adalah pendukung,”  “Dia menolong mereka sepanjang hari,” “Untuk memberikan struktur moral kepada alam semesta,” “Untuk membuat kehidupan masuk akal.” Jawaban – jawaban tersebut merupakan alasan utama, namun apabila pertanyaan kedua ditanyakan:  “Mengapa anda sendiri percaya kepada Allah?” Jawaban – jawaban di atas berada di urutan paling bawah. Yang berada pada urutan atas adalah “rancangan, keteraturan dan kompleksitas di dunia.” Jadi saya pikir dari sinilah kita mulai. Di sinilah inituisi kita. 

            Richard Dawkins menulis sebuah buku yang berjudul The Blind Watchmaker (Pembuat Jam Tangan yang Buta), dengan sub judul Why the Evidence of Evolution Reveals a World without Design (Mengapa Bukti – Bukti Evolusi Mengungkapkan Sebuah Dunia Tanpa Rancangan).  Pada halaman pertama dia menulis, “Biology adalah studi tentang hal – hal yang rumit yang nampaknya seperti dirancang untuk tujuan tertentu.” Itu hanya halaman pertama. Kemudian dia membutuhkan 300 halaman untuk menjelaskan mengapa hal yang diamati itu hanya tampaknya saja dirancang, mengapa kalau anda telah mengetahui apa yang terjadi, anda akan memahami bahwa evolusilah yang bertanggung jawab atas keberadaan kita. Sentimen semacam ini diterima secara luas di dunia biologi. Francis Crick, seorang penerima Nobel yang adalah salah seorang penemu struktur DNA, menulis, “Para ahli biologi harus terus – menerus mengingat bahwa apa yang kita lihat tidaklah dirancang, namun berevolusi.” 

            Lalu apa yang sebenarnya terjadi di sana? Mengapa orang berkata seperti itu? Inituisi alamiah kita menyatakan bahwa sistem – sistem tersebut dirancang. Namun apabila anda menyelidiki program – program pendidikan di negara ini, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah dan kolese, apa yang anda temukan adalah pendidikan merupakan sebuah subversi, sebuah indoktrinasi pola pikir materialistik dimana apa yang seharusnya jelas dan dapat dipahami menjadi tidak masuk akal, sehingga pada akhirnya, jika anda mengikuti pendidikan ini dan menerimanya, anda tidak akan menerima bahwa ada rancangan di dunia. Yang anda akan terima hanyalah gaya – gaya materi. 

            Itulah yang terjadi pada Michael Shermer. Dulunya dia adalah seorang Kristen Injili, namun dia menelan cukup banyak dosis Darwin dan sekarang dia benar – benar dicengkeram oleh Darwin. Jika anda melihat kulit belakang bukunya anda akan melihat gambar Shermer yang tersenyum dan patung setengah badan Darwin dan buku – bukunya di belakang.

Memberikan Kemuliaan bagi Allah

            Jadi apa yang dapat kita simpulkan? Apa saja keuntungan yang nyata dari Intelligent Design untuk komunitas Kristen? Saya pikir minimal Intelligent Design akan mencegah anak muda kita diombang – ambingkan oleh ideology materialistik. Namun lebih jauh dari itu, dan saya pikir yang menjadi pendorong buat saya sendiri adalah, bahwa Intelligent Design mengungkapkan kebenaran tentang ciptaan. Saya sangat berkomitmen terhadap kebenaran dasar bahwa Allah dengan kebijaksanaanNya telah menciptakan dunia. Hanya dengan mengakui hal ini Allah mendapatkan kemuliaan yang pantas atas ciptaanNya. Adalah sebuah ejekan dan penghinaan jika anda bertemu seniman besar seperti, seorang Michelangelo atau seorang Leonardo da Vinci atau seorang Rembrandt, dengan karya besarnya di samping mereka, kemudian anda datang dan berkata, “Ah..kalian hanya tinggal menggabung – gabungkannya saja. Tidak ada apa – apanya. Akupun bisa membuatnya.” 

           Inilah yang kita lakukan apabila memandang rancangan luar biasa yang Allah telah kerjakan di alam semesta yang jauh melebihi apa saja yang dikerjakan Michelangelo, dan bukan saja mengatakan, “aku pun dapat melakukannya,” namun menghubungkannya dengan proses materi yang buta dan bodoh. Adalah sesuatu yang sangat menyakitkan hati saya pada saat saya melihat program – program tentang alam di stasiun PBS dimana dikatakan “alam melakukan ini” dan “seleksi alam melakukan itu.” Dimana Allah di dalam semua ini? Dia tidak terpisahkan. Saya pikir inilah masalah sebenarnya dari naturalisme dan materialisme. 

            Ada pengikut Dawkins yang fanatik dalam ateismenya, namun kebanyakan para penganut materialisme ini jarang muncul dan berkata, “Allah Tidak Ada.” Tidak ada penyangkalan terbuka terhadap Allah, Allah hanya dipandang tidak perlu. Bukan penyangkalan yang terbuka namun pengabaian yang halus terhadap Allah. Saya pikir kita makin banyak menyaksikannya. Namun saya pikir Intelligent Design akan membalikkan semua ini. Saya pikir kita akan melihat semua tingkat retorika dan kontroversi memanas dalam hari – hari mendatang.

            Baru pada bulan December lalu, Oxford University Press menerbitkan dua buku yang total halamanya tujuh ratus halaman untuk menyerang Intelligent Design. Salah satu buku tersebut ditulis oleh Barbara Forrest dan Paul Gross, yang berjudul Creationism’s Trojan Horse (Kuda Troya Kreasionisme), dan sub judul The Wedge of Intelligent Design (Baji Intelligent Design). Buku lain ditulis oleh Niall Shanks, God, the Devil and Darwin (Allah, Iblis, dan Darwin), dan kemudian Prometheus Press mengeluarkan Unintelligent Design, sebanyak empat ratus halaman. Jadi banyak orang yang mendapatkan reputasinya dan bahkan kedudukan sebagai professor karena membahas tentang Intelligent Design. Saat – saat yang sungguh menarik.



[1] Diterjemahkan oleh [snip] dengan ijin penulis. Tulisan ini dapat dibaca dalam Bahasa Inggrisnya pada situs: www.designinference.com

[2] Dr. Dembski adalah seorang ahli matematika dan filsafat yang merumuskan kriteria / metode untuk mendeteksi rancangan di alam semesta. Teori yang dikembangkan Dr. Dembski diberi nama `Intelligent Design` atau bisa diterjemahkan sebagai ‘Perancangan yang Cerdas’. Teori ini disambut oleh kontroversi di kalangan para ilmuwan.

[3] Seorang hedonis yang maniak seks yang menerbitkan sebuah majalah pornografi terkenal bernama Playboy

[4] Gagasan bahwa dunia materi bekerja dengan mekanismenya sendiri namun pada saat tertentu Allah turut campur tangan.

[5] Sebuah gunung batu di Amerika Serikat tempat diukirnya kepala beberapa presiden Amerika Serikat


jesusalone wrote on Sep 21, '06, edited on Sep 21, '06
Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan di blog salah satu kontak saya di Internet tentang plagiarisme dunia maya yang membahas tentang orang - orang yang secara sengaja mengutip tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumber aslinya.
Setelah saya lihat posting ini saya sadar bahwa saya tidak mencantumkan nama penterjemah artikel ini. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa dia secara sengaja sementara merujuk pada tulisan ini tetapi saya tahu bahwa apa yang ditulisnya benar dan saya ingin mengklarifikasi penterjemah tulisan ini.

Tulisan Dr. Dembski ini diterjemahkan sendiri oleh OJS.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help