Beberapa saat yang lalu saya tergelitik untuk menanggapi postingan seorang ateis yang mengatakan bahwa dalam kekristenan kematian tidak membawa kesedihan karena orang percaya pasti ke surga dan nanti pasti ketemu lagi.
Saya menanggapi hal itu secara ironi. Pertama saya mengatakan bahwa itu adalah bantahan yang sangat kuat terhadap kekristenan, tetapi setelahnya menunjukkan kebodohan posisi ini dengan mengambil sebuah contoh imajiner.
Saya menulis tentang teman dekat yang pergi studi ke Amerika Serikat dan saya merasa sedih karena itu walaupun saya tahu (berdasarkan pertimbangan statistik dll) bahwa dia akan kembali. Saya tidak serta merta menjadi tidak sedih hanya karena saya pasti aka ketemua dengan teman saya lagi tetapi karena ada keterpisahan.
Poin dari tanggapan saya adalah apapun hasilnya nanti, entah saya akan ketemu atau tidak akan ketemu dengan teman saya tadi tidak berpengaruh pada rasa sedih saya. Yang berpengaruh adalah kehilangan persekutuan dll.
Si ateis tadi akirnya tidak menjawab kritikan saya, dia hanya mengatakan itu tidak dimaksudkan sebagai bantahan tetapi sebagai kritikan. Dia tidak menjawab sama sekali tanggapan saya.
Saya kembali menanggapi dengan mengatakan.. bahwa itu kalau itu adalah kritikan maka kritikan itu adalah kritikan yang sangat tajam.Tentunya ini bernada ironi. Sampai sekarang dia tidak menjawab tanggapan saya tersebut.
Mungkin tanggapan saya tidak seberapa, tapi setidak-tidaknya dia sadar bahwa sebenarnya berkesimpulan bodoh.
Tulisan si ateis dan tanggapan saya ada di sini:
http://angelsdepart.blogspot.com/2007/08/imaginary-friend.html