Sebuah Perumpamaan
Di bawah ini adalah terjemahan dari tulisan seseorang di Internet yang menerapkan argumen yang digunakan Richard Dawkins untuk membantah keberadaan Allah demi membantah keberadaan seorang yang bernama Richard Dawkins. Richard Dawkins dikenal sebagai orang yang sangat anti Tuhan dan agama.
Pada Mulanya
Saat membolak-balik halaman buku "The God Delusion", sebuah pertanyaan muncul di benak saya. Apakah Richard Dawkins benar-benar ada?
Sebagai seorang ilmiah dan rasional, saya memutuskan untuk tidak begitu saja menerima teori tua apapun tentang keberadaan Dawkins. Jika Richard Dawkins memang ada, maka saya perlu bukti. Orang lain boleh memiliki kepercayaan yang bersifat takhyul, namun saya hanya akan yakin apabila ada bukti empiris. Kalau memang Dawkins ada, mengapa dia tidak menunjukkan dirinya pada saya?
Kejadian Susulan
Saat saya menimbang-nimbang tentang hal ini, seorang yang mengenakan topi runcing berkeliaran ke ruangan saya. Dia mendirikan sebuah kotak kecil setinggi beberapa kaki dari atas tanah, menaikinya dan mulai berbicara kepada saya.
Dia memulai pembicaraannya dengan sedikit dogmatis dan bersikeras tentang beberapa hal. Dia berpendapat bahwa jelas dan tidak terbantahkan kalau Richard Dawkins itu benar-benar ada. Bukankah saya sedang memegang bukunya? Bukankah ada nama Dawkins pada sampul buku tersebut, dan buah pikirannya ada di setiap halaman buku itu? Kalau saya menginginkan bukti keberadaan Dawkins, bukankah itu sudah ada dalam buku besar dan tebal tersebut? Dawkins, katanya, telah menunjukkan dirinya pada saya dimana-mana. Kalau Dawkins bukan penyebab yang cukup untuk menjelaskan keberadaan buku-buku tersebut, lalu apa? Alternatif lain tidak masuk akal. Dibutuhkan iman yang lebih besar untuk menerima pandangan alternatif daripada yang diperlukan untuk menerima pandangan bahwa halaman-halaman buku tersebut adalah hasil karya dari seseorang yang bernama Richard Dawkins.
Masuknya Si Ahli
Pada saat saya menimbang-nimbang hal ini, seorang lelaki berjubah putih tiba-tiba muncul. Dia tersenyum ramah, menunjukkan secarik kertas dengan yang berisi banyak huruf dan mulai berbicara kepada saya. Pada saat dia berbicara kepada saya, perhatian saya tertuju pada sejumlah fakta yang tidak terbantahkan. Buku yang saya sedang pegang itu tersusun oleh halaman-halaman dimana halaman merupakan kertas dari jenis tertentu yang terbuat dari bubur kertas. Di atas kertas tersebut terdapat sejumlah titik-titik kecil yang diatur berdasarkan pola tertentu. Segalanya tentang buku tersebut dapat dijelaskan dan lelaki tersebut menjelaskannya pada saya.
Saya sangat terkesan oleh lelaki berjubah putih tersebut karena dia tidak merujuk kepada teori-teori yang tidak pasti atau kesimpulan yang meragukan. Yang dia bicarakan hanyalah fakta-fakta sederhana. Saya dapat saksikan dengan mata kepala saya sendiri apa yang dia katakan! Buku itu dapat dijelaskan dengan sesuatu yang jelas tanpa membutuhkan teori-teori aneh tentang keberadaan seorang Dawkins. Lebih dari itu, teori-teori tentang keberadaan Dawkins telah bertanggung jawab atas berbagai kesalahan yang pernah dilakukan. Di dunia Internet ada berbagai kesalahan yang dilakukan: non-sequitur, karikatur, tuduhan akan kekerasan masa kecil dan semua jenis kejahatan lain yang dipromosikan atas nama seseorang yang disebut si Dawkins tersebut! Andaikata memang Dawkins ada, saya pikir banyak hal yang harus dia pertanggung jawabkan.
Tentang hal ini si lelaki bertopi runcing tersebut memiliki pandangan yang berseberangan. Menurut pandangannya saya menyangkal sesuatu yang jelas. Andaikata memang benar tidak ada seorang Dawkins, pasti buku yang saya pegang tidak ada. Buku tersebut adalah karya Dawkins dan memberi gambaran tentang karakter, kecenderungan, dan gagasan Dawkins sendiri di setiap halamannya. Kalau saya mau melihat bukti akan keberadaan Dawkins, saya tidak perlu repot-repot karena semuanya jelas.
Semuanya Dapat Dijelaskan dengan Mudah
Namun pada saat ini saya tahu bahwa si orang tua aneh yang bertopi runcing tersebut hanya berbicara sesuatu yang benar-benar takhyul. Saya bisa melihat bahwa buku tersebut sebenarnya hanyalah pengaturan sederhana dari 26 huruf. Tentu saja, saya tidak terlalu jelas memahami gambar pada sampul buku tersebut, namun hal itu tidak berarti bahwa saya perlu membicarakan tentang Dawkins jenis apapun. Karena kalau demikian artinya saya akan jatuh pada perangkap "Dawkins-of-the-gaps" – yaitu seorang Dawkins yang akan menghilang perlahan-lahan seiring dengan semakin majunya sains.
Dengan membaca buku di rak buku saya dan menjelajahi internet, saya menemukan bahwa buku itu tidak memiliki gagasan dan argumen yang unik sama sekali – gagasan-gagasan dalam buku itu hanyalah pengulangan kembali apa yang dikatakan beribu-ribu kali di masa lampau. Dengan demikian jelaslah bahwa buku tersebut telah berkembang hanya melalui proses yang murni alami dan tidak cerdas sama sekali. Tinggal memindah-mindahkan huruf a, e, i, o dan u, - memindahkah paragraf yang ini dengan paragraf yang lain; mengganti argumen yang satu dengan argumen lain maka anda akan bisa mendapatkan buku apapun dari bentuk argumen primitif tanpa mengalami hambatan sama sekali andaikata waktunya cukup. Jelas si lelaki bertopi runcing tadi adalah seorang fundamentalis yang tidak dapat dilepaskan dari gagasan irasional akan adanya seorang Dawkins. Andaikata orang seperti si lelaki tadi dibiarkakan mengemukakan pendapatnya, maka dengan menggunakan logika yang syah saya berkesimpulan bahwa kita semua akan dibunuh oleh orang gila yang berjanggut dan akal sehat mengharuskan agar dunia dirubah menjadi Dawkins-ocracy. Saya jadi bertanya-tanya apakah seluruh gagasan tentang Dawkins ini tidak berbahaya.
Sebuah Pandangan Baru
Pada titik ini, seorang lelaki lain masuk ke dalam ruangan – saya tidak tahu dari mana dia datang. Dia mengenakan kacamata dan sejujurnya kelihatan sedikit aneh. Perihal a, e, i, o dan u yang menarik perhatian saya. Menurutnya dia membuktikan bahwa huruf-huruf ini bukan produk kejadian acak karena diatur berdasarkan pola-pola tertentu. Apabila huruf-huruf kecil tersebut dilihat secara keseluruhan, maka tampak kode-kode yang merupakan argumen yang canggih. Katanya, ini adalah tanda-tanda adanya kecerdasan. Buku ini tidak berkembang dari buku-buku sebelumnya karena kalau kita memodifikasi huruf-huruf dari buku-buku sebelumnya akan menghasilkan sebuah buku yang yang tidak dapat dimengerti sama sekali. Ada bukti rancangan yang sadar dalam buku ini dan sains sederhana serta akal sehat membuktikan adanya rancangan tersebut. Lebih dari itu, beberapa argumen yang dulu saya pikir berlebih-lebihan dan membuktikan ketiadaan kecerdasan, ternyata justru menunjukkan adanya tujuan.
Pada saat si lelaki ini mengemukakan pandangannya, saya melihat bahwa lelaki berjubah putih berubah menjadi berbentuk seperti bayangan gula bit. Si lelaki aneh ini katanya adalah lelaki yang dia lihat di luar ruangan memakai topi runcing. Dengan demikian tidak ada hal yang pantas didengar dari lelaki yang satu ini sama seperti halnya si lelaki bertopi runcing. Jubah putihnya jelas gadungan karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat orang yang mengenakan jubah putih dan topi runcing sekaligus. Lebih jauh lagi andaikata saya bertanya kepadanya tentang inteligensia/kecerdasan macam apa yang berada di balik kode-kode dalam buku tersebut, jawaban yang paling mungkin saya dapatkan tidak lebih dari teori yang sudah didiskreditkan tentang keberadaan si Dawkins.
Si Topi Runcing Mengenakan Stelan Jas!
Pada saat saya memandang tajam kacamata si lelaki ketiga, kacamatanya kelihatan agak aneh bagi saya. Tampaknya ada sesuatu yang meyakinkan dari argumen si lelaki berjubah putih. Pembicaraan tentang inteligensia/kecerdasan tampaknya jelas merupakan penyamaran yang tidak terlalu baik dari tesis "dawkinspelakunya". Kalau Dawkins merancang buku tersebut, lalu siapa yang merancang si Dawkins? Hal ini tidak menyelesaikan masalah sama sekali hanya menggesernya sedikit karena jelas bahwa tidak ada seorangpun yang mampu menjelaskan siapa yang merancang Dawkins.
Si lelaki aneh protes bahwa dia hanya menggunakan sains untuk mengidentifikasi adanya inteligensia/kecerdasan. Sains yang digunakan syah, kata si aneh, entah penulis buku itu Dawkins atau bukan dan tidak dapat dibantah dengan menggunakan filsafat dan cara berpikir yang menyesatkan. Namun protes seperti itu jelas merupakan pelanggaran yang jelas terhadap pandangan saya yang dengan jelas membedakan antara iman dan akal budi. Lebih dari itu, pada saat saya mempertimbangkan tentang buku ini, saya bisa melihat bahwa ada pelanggaran terhadap hukum logika, argumen tanpa bukti, dan sebagainya. Andaikata memang ada inteligensia/kecerdasan di balik buku itu, maka jelas bahwa inteligensia/kecerdasan itu sangat rendah! Karena itu, dengan menggunakan kekuatan besar pemikiran rasional, saya berkesimpulan bahwa tidak ada inteligensia/kecerdasan di balik buku tersebut.
Kesimpulan Akhir
Tidak, Richard Dawkins tidak ada. Saya tidak pernah melihat dia. Sains telah memberikan penjelasan yang lengkap dan memuaskan tentang buku yang katanya merupakan mahakarya Dawkins. Buku itu tidak lebih dari kumpulan huruf a, b, dan c acak yang merupakan rekombinasi dari pola yang sudah ada sebelumnya. Ada abjad, ada buku sajak anak-anak dan ada pula buku "The God Delusion" dan yang satu berkembang dari yang lainnya, walaupun rincian proses perkembangannya masih perlu diidentifikasi lagi. Kaitan-kaitannya mungkin masih belum ditemukan, namun Sains sewaktu-waktu dapat menemukannya. Setiap orang yang meragukan ini bisa jadi sedang berdusta, gila atau bodoh (atau jahat, tapi saya tidak mau berpikir tentang kemungkinan ini).
Setelah menyelesaikan semua ini, saya menyelamati diri sendiri atas penggunaan logika dan akal budi yang tajam. Setelah makan siang, ada satu pertanyaan lain yang mendesak untuk saya pikirkan jawabannya.
Apakah saya ada?
Sumber: http://david.dw-perspective.org.uk/does-richard-dawkins-exist.html