Jesus is the Only Saviour/ Yesus Satu-Satunya Juruselamat

Blog EntryChristian Response to The Da Vinci CodeMay 27, '06 9:50 PM
for everyone

The Da Vinci Code

Vincent Cheung

 

Hak Cipta © 2006 oleh Vincent Cheung. Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.

Diterbitkan oleh Reformation Ministries International

 

The Da Vinci Code merupakan sebuah novel terkenal saat ini. Walaupun pengarangnya mengakui bahwa novel ini fiksi, dia juga mengklaim bahwa alur ceriteranya didasarkan pada fakta – fakta historis. "Fakta – fakta" ini pada gilirannya merujuk kepada sebuah persengkongkolan dimana Gereja memiliki informasi rahasia tentang Yesus yang apabila dibocorkan akan menghancurkan kepercayaan Kristen yang ortodoks. Seperti diakui penulisnya, yang disebut sebagai “fakta – fakta” ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, bukan juga baru pertama kali hal seperti ini ditulis. Kenyataannya, “fakta – fakta” ini didasarkan pada sejumlah dokumen, teori, dan legenda yang telah dikenal para sarjana dan orang Kristen yang [belajar] sejak…yah, dulu kala. Sebenarnya “fakta –fakta” ini telah dibantah sejak dahulu kala juga.

Namun demikian, karena teori – teori ini begitu terjalin kuat dalam sebuah ceritera misteri yang dianggap oleh banyak orang sebagai menghibur, teori – teori ini menyita perhatian masyarakat umum. Tentu saja kebanyakan pembaca tidak bisa membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi. Sebuah kisah seringkali menghancurkan kemampuan orang [berpikir] kritis, dan [secara efektif] menyampaikan teori – teori dan kepercayaan – kepercayaan yang berada di balik cerita – cerita tersebut, seolah – olah seperti [proses] osmosis. Entah satu kisah itu benar atau salah, orang kebanyakan akan mudah dipengaruhi oleh ceritera / kisah karena kebanyakan orang [bersifat] irasional dan tidak [memiliki / menggunakan kemampuan] membedakan. Jadi, entah kebenaran atau kesalahan yang disampaikan, sebuah teori akan mendapatkan pengaruh apabila disampaikan dalam bentuk sebuah narasi. Hal ini tidak berarti bahwa metode cerita dalam dirinya sendiri menipu atau bermasalah, namun yang ingin saya katakan ialah bahwa [lewat ceritera] sebuah teori akan mendapatkan akses ke dalam pikiran orang yang irasional dengan lebih mudah daripada apabila disampaikan dalam bentuk non fiksi.

Saya menghargai karya sejumlah orang yang telah memformulasikan jawaban – jawaban spesifik terhadap Da Vinci, sejauh isinya akurat dan efektif. Tentu saja jawaban – jawaban ini tidak didasarkan pada penelitian dan refleksi baru, namun didasarkan pada apa yang telah diketahui dan dipercayai oleh para sarjana dan orang kristen yang [belajar] selama ini, namun [perbedaannya adalah bahwa kini] informasi tersebut diterapkan pada novel dimaksud.

Namun demikian, saya melihat dua masalah dalam jawaban – jawaban yang diberikan orang Kristen terhadap Da Vinci.

Satu masalah yang saya temui dengan bahan – bahan ini bukanlah jawaban yang mereka berikan, karena secara keseluruhan bahan – bahan ini tepat, namun filosifi di balik argumen mereka. Sebagai contoh, orang Kristen mungkin akan memberikan tanggapan terhadap klaim historis  dalam Da Vinci dengan argumen yang dirumuskan murni dari epistemiologi empiris. Walaupun argumen mereka sehat apabila dipandang dari metode investigasi yang diakui (disepakati), namun argumen – argumen ini mencerminkan ketergantungan dan kepercayaan berlebihan [mereka] terhadap empirisisme untuk membangun kesimpulan yang mendukung iman Kristen, atau dalam membantah serangan [terhadap kekristenan]. Karena fondasi yang salah ini, keseluruhan penyajian mereka pasti tercemar oleh beberapa ketidakpastian dan masalah logika yang inheren (melekat) dalam pendekatan ini. Satu ilustrasi lain, orang – orang Kristen bisa menggunakan argumen – argumen ilmiah untuk membantah teori evolusi. Maksudnya mereka bisa menggunakan metode ilmiah untuk merumuskan argumen ilmiah yang membantah penolakan [terhadap kekristenan] yang didasarkan pada argumen ilmiah. Namun dengan melakukan demikian mereka menunjukkan ketergantungan epistemiologis terhadap sains, dan jika sains sendiri tidak pasti, irrasional, dan bahkan salah (seperti yang telah saya ungkapkan dalam tulisan lain), maka pendekatan mereka akan membuat Kekristenan sendiri tampak tidak pasti, walaupun Kekristenan tampaknya memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk benar [dalam sudut pandang ini]. Dengan demikian, hal ini merupakan keengganan pertama saya terhadap jawaban – jawaban orang Kristen terhadap Da Vinci.  

Masalah lain yang saya hadapi dengan sanggahan - sanggahan orang Kristen terhadap Da Vinci adalah [mereka mengatakan] bahwa tidak ada salahnya kalau orang membaca buku itu kalau dia sadar bahwa tulisan tersebut hanya sebuah novel. Sejumlah penulis mengakui bahwa mereka mendapati bahwa buku itu enak untuk dibaca, namun mereka tidak menerima klaim bahwa jalan ceriteranya didasarkan pada fakta – fakta historis. Namun demikian, buku ini tidak hanya tidak akurat tentang sejarah, namun juga ketidakakuratan ini  — yaitu apa yang dibantahnya — berhubungan dengan Kitab Suci[1], identitas dan karya Yesus Kristus, dan bahkan tentang natur Allah sendiri. Karena itu, karya ini bukan hanya “tidak akurat”  — namun juga menghujat. Karena itu, adalah sebuah dosa bagi orang Kristen untuk mengatakan kepada orang lain, "Sejauh anda memahami kebenaran, silahkan baca saja! Karya itu menghibur. Tapi ingatlah bahwa karya itu hanya sebuah novel dan jangan menganggapnya terlalu serius." Walaupun ada alasan – alasan yang syah untuk membaca novel itu, namun alasan yang dikemukakan di atas bukanlah salah satu dari alasan itu. Sebaliknya, saya I menegaskan bahwa seorang Kristen berdosa besar jika dia membaca novel di atas dengan alasan seperti ini, dan seorang pemimpin Kristen berdosa lebih besar lagi jika dia mengatakan bahwa membaca novel tersebut dengan alasan di atas dapat diterima.

Kita tidak boleh sama sekali mengatakan kepada orang lain bahwa membaca atau menonton karya yang penuh penghujatan sebagai sesuatu yang dapat diterima karena karya itu adalah penghujatan yang menghibur, karena karya dimaksud tidak membawa ancaman serius terhadap iman kita, atau kalau kita tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius. Saya menegaskan bahwa adalah sebuah dosa besar melawan Tuhan apabila membaca atau menonton, atau mengatakan kepada orang lain untuk membaca atau menonton [karya yang menghujat Tuhan] dengan alasan seperti ini. Satu alasan mengapa banyak orang tidak berpendapat seperti saya adalah karena mereka memiliki [standar] moralitas yang berpusat pada manusia. Kita tidak memperbolehkan orang untuk menonton pornografi hanya supaya mereka terhibur atau supaya mereka lebih paham, namun dari perspektif yang berpusat pada Allah, penghujatan jauh lebih buruk daripada pornografi. Sebegitu beranikah kita merasa terhibur oleh hal seperti itu? Seberapa berani? Monster seperti apa jadinya saya andaikata saya merasa terhibur oleh sebuah novel yang menghina istri saya atau oleh sebuah film yang menertawakan orang tua saya? Sementara itu [kita berani berkata] bahwa adalah sesuatu yang baik untuk menikmati sebuah novel atau film yang menghujat Tuhan kita, selama kita tidak menganggapnya serius? Sekurang – kurangnya dari titik pandang ini, mereka yang berpikir seperti ini sama bersalahnya dengan pengarang Da Vinci. Sebaiknya anda memiliki alasan yang lebih baik untuk membaca buku itu atau menonton filmnya daripada hanya rasa sekedar ingin tahu, atau nafsu untuk mendapatkan hiburan atau kontroversi.

Karena Da Vinci yang [pada saat tulisan ini dibuat] sementara dijadikan film, semakin besar kemungkinan bahwa beberapa dari anda bertemu dengan orang – orang yang berbicara tentang buku atau film ini dengan anda. Jangan terganggu oleh intensitas propaganda seperti itu. Tanggapan utama anda harus tetap membahas isu – isu mendasar seperti epistemologi, metafisika, dan mengatur ‘pertempuran’ antara pandangan dunia yang percaya dan pandangan dunia yang tidak percaya, dst. Untuk bisa mencapai hal tersebut, anda harus mereview tulisan saya Ultimate Questions, Presuppositional Confrontations, dan Apologetics in Conversation. Saat membahas Da Vinci secara detil, harus mengarahkan anda untuk membahas isu – isu mendasar dari pandangan dunia dan isi injil.

Hal ini tidaklah jauh berbeda daripada saat seseorang menantang anda dengan teori evolusi. Ya, anda dapat menggunakan argumen ilmiah untuk membantah orang tersebut tentang isu dimaksud, lalu kemudian bagaimana? Bahkan setelah membuktikan bahwa evolusi salah dengan menggunakan argumen ilmiah, anda belum menunjukkan bahwa argumen lain menentang Kekristenan salah, ataupun bahwa Kekristenan itu benar. Jadi, pada akhirnya anda masih harus menilai prinsip – prinsip awal dari sistem folosifis yang saling bertentangan. Dengan demikian, walaupun tidak pernah menjadi keharusan [untuk menggunakan argumen ilmiah dalam membantah teori evolusi], mungkin akan berguna untuk memahami beberapa argumen ilmiah yang bertentangan dengan evolusi, untuk digunakan sebagai argumen ad hominem yang menunjukkan bahwa anda tidak takut saat berbicara tentang sains, atau menunjukkan bahwa lawan anda salah sekalipun dengan menggunakan dasar /standar / metodenya yang irasional.

Demikian pula halnya, mungkin akan berguna bagi anda untuk memiliki akses terhadap informasi yang membantah klaim historis dalam Da Vinci. Karena itu, pada akhir artikel ini, saya memberikan daftar beberapa sumber – sumber online tentang masalah dimaksud. Ada banyak lagi yang lain, namun yang saya tampilkan sudah cukup untuk menjawab tantangan terhadap Kekristenan yang kemungkinan orang akan ajukan setelah membaca buku atau menonton filmnya. Ada juga beberapa buku – buku yang ditulis dalam rangka menjawab Da Vinci, namun sekali lagi [saya katakan], web site ini sudah cukup, dan mudah untuk membahas dengan orang lain karena anda dapat mengirimkan link [ke sumber – sumber tersebut] lewat email.

Apapun keadaannya, ingat bahwa orang menolak Kekristenan tidak pernah karena mereka memiliki argumen atau bukti yang solid yang bertentangan dengan Kekristenan, namun karena, seperti Alkitab katakan, perbuatan mereka jahat, sehingga mereka mencintai kegelapan dan membenci terang. Informasi yang salah dalam Da Vinci hanya memberikan mereka alasan untuk mengklaim bahwa mereka menolak Kekristenan karena alasan – alasan rasional, walaupun sebenarnya tidak ada yang rasional sama sekali di dalamnya. Jadi kalau Roh Kudus tidak bekerja di dalam hati mereka untuk menghasilkan pertobatan dan iman, walaupun klaim dalam Da Vinci ditunjukkan sebagai sepenuhnya tidak akurat, mereka masih akan terus menolak percaya, mereka akan mencari alasan lain untuk menyembunyikan diri. 

Karena itu, dengan membiarkan orang tidak percaya memaksa anda menggunakan terlalu banyak waktu [untuk menjawab] setiap jenis penolakan — entah Da Vinci, atau evolusi, dll. — maka anda sudah jatuh ke dalam perangkap. Dia akan selalu mengangkat – angkat sesuatu untuk dikatakan, seberapapun konyolnya, sehingga anda membuang waktu membantahnya. Jadi anda mengerti [sekarang], entah dia sadar atau tidak, dia terus mencoba membuat penolakan sehingga keadaan jiwanya yang sebenarnya tidak diperhadapkan dengan kebenaran tentang Yesus Kristus. Sebenarnya, pada saat percakapan, anda harus mengungkapkannya dan mengatakan, "Aku sudah menunjukkan padamu sanggahan – sanggahan terhadap klaim – klaim yang dibuat dalam Da Vinci. Sekarang anda harus menyanggahnya ataupun mengakui bahwa Da Vinci tidak membawa masalah yang berarti bagi iman Kristen. Atau anda masih bersembunyi di balik Da Vinci, bukan karena [Da Vinci] memberikan anda tantangan rasional terhadap Kekristenan, namun karena anda mencoba untuk mencari alasan menolak kebenaran?"

Orang tidak percaya ingin menghentikan anda agar anda tidak berbicara tentang dirinya — maksudnya tentang keadaan si orang tidak percaya itu sendiri. Dia akan mengatakan apapun. Dia akan melontarkan apapun ke depan anda sehingga dia akan menunda saat – saat dimana diperhadapkan dengan Allah. Kalau bukan Da Vinci [yang digunakan sebagai tameng], maka yang digunakan adalah sesuatu yang lain. Dengan demikian, ya, jawab saja tantangannya, namun dalam percakapan selalu arahkan percakapan kembali kepada keadaan dirinya — kondisi jiwanya yang yang bercela, dosa – dosanya terhadap Allah, dan harapan satu – satunya untuk keselamatan dalam Yesus Kristus. Arahkan dia untuk mempertahankan apa yang dipercayainya. Dan buat dia mempertanggungjawabkan perilakunya dan gaya hidupnya.

Memang benar bahwa Da Vinci menyebutkan isu – isu yang baik untuk diketahui orang percaya, namun novel tersebut membuat klaim yang salah tentang isu – isu tersebut. Sebagai contoh, novel itu membuat klaim tentang hubungan antara Kekristenan dengan Konstantin, Kaisar Roma. Namun saya pikir tempat terbaik untuk belajar tentang topik ini dan topik lain adalah adalah sebuah kuliah umum tentang sejarah gereja — presentasi positif dan terorganisir tentang bahan ini — dan bukan dalam konteks bantahan terhadap sebuah fiksi popular yang membuat klaim yang salah tentang sejarah gereja. Tentu saja pengetahuan umum tentang sejarah gereja secara otomatis akan membantah apa yang diklaim dalam novel itu, karena di dalamnya akan termasuk informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi pada jaman Konstantin, dan seterusnya[2].

 

Apologetika Untuk Segala Tujuan[3]

Tulisan – tulisan yang linknya ditampilkan di bawah ini menjelaskan secara rinci tentang pendekatan  alkitabiah untuk mempertahankan iman Kristen yang selalu dapat digunakan kapanpun dan dimanapun. Pendekatan alkitabiah dapat menghancurkan semua tantangan terhadap iman walaupun anda tidak mempunyai waktu untuk memberikan jawaban spesifik kepada mereka. Seperti dikatakan, walaupun anda memberikan bantahan spesifik terhadap Da Vinci dalam sebuah percakapan dengan orang tidak percaya, anda harus tetap memimpinnya kembali ke isu – isu mendasar dalam pandangan dunia yang dibahas dalam tulisan – tulisan ini.

Ultimate Questions

Presuppositional Confrontations

Apologetics in Conversation

Captive to Reason

Professional Morons

 

Jawaban terhadap The Da Vinci Code

Di bawah ini adalah sumber - sumber online yang memberikan jawaban – jawaban spesifik terhadap klaim yang salah yang terdapat di dalam Da Vinci.

thetruthaboutdavinci.com/articles/

leaderu.com/focus/Davinci_movie.html

sebts.edu/DaVinci/

davinci-code-breaker.com/

cbn.com/special/DaVinciCode/

envoymagazine.com/planetenvoy/Review-DaVinci-Part1.htm

envoymagazine.com/PlanetEnvoy/Review-DaVinci-part2-Full.htm

ignatius.com/books/davincihoax/pressroom/mieselinterview.asp

ignatius.com/books/davincihoax/pressroom/olsoninterview.asp

 

Catatan: tulisan ini diterjemahkan dan diposting di sini atas ijin dari penulis



[1] Dalam tulisan atau terjemahan saja yang saya maksudkan dengan Kitab Suci adalah Alkitab karena saya mengakui dan mempecayai bahwa hanya Alkitab yang adalah Kitab Suci [CATATAN PENTERJEMAH]

[2] Artikel ini merupakan saduran dari pesan "internal" yang awalnya dikirim ke mailing list kami. [FOOTNOTE TULISAN ASLI]

[3] Bahan – bahan ini merupakan tulisan Vincent Cheung. Versi elektronik tulisan – tulisan ini tersedia tanpa pungutan dari Reformation Ministries International. [FOOTNOTE DALAM TULISAN ASLI]

 


Comment deleted at the request of the thread owner.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help