Mulai hari ini saya akan posting terjemahan dari buku Dominic Bnnon Tennant yang dapat didownload secara gratis di
http://bnonn.thinkingmatters.org.nz/?page_id=62 yang berjudul: The Wisdom of God (Hikmat Allah). Karena ini masih draft, maka tentunya ada hal yang masih belum jelas (ada tanda tanya lebih dari satu). Semoga berguna.
Prakata
Ijinkan saya untuk membuka kartu. Saya bertobat sekitar tiga tahun yang lalu, dan karena itu seharusnya jelas bahwa saya tidak mempunyai otoritas apapun sebagai pengajar bagi orang Kristen lain. Sebenarnya, saya mendapat kritik dari mereka yang nasehatnya saya sangat hargai yang berpendapat bahwa saya terlalu cepat menulis blog, apalagi menulis buku. Memang hal itu benar adanya karena kalau dibanding dengan sebagian besar dari mereka yang menerbitkan buku, saya tidak terpelajar dan amatir.
Namun demikian, kurangnya pengalaman bukanlah sebuah kecacatan tetapi malah setiap kekurangan bisa memiliki nilai lebih. Saya berani mengatakan demikian karena saya tidak tertarik untuk menulis buku yang penuh dengan penafsiran kompleks dan referensi yang banyak; yaitu buku yang mengajar orang percaya tentang hal yang saya sendiri belum punya keahlian atau otoritas untuk lakukan. Sebaliknya saya tertarik untuk menulis sebuah buku yang memberi penjelasan dalam bahasa yang sederhana bagi orang Kristen sederhana (tetapi tidak berarti bodoh atau lambat berpikir) tentang kebenaran-kebenaran yang paling berpengaruh terhadap pertobatan saya dan prinsip-prinsip penerapannya yang saya pikir paling efektif sejak pertobatan saya tersebut.
Prinsipnya hanyalah mengakui Alkitab sebagai prakondisi/persyaratan bagi pengetahuan—namun hal itu tidak berarti terlalu sederhana. Salah satu alasan yang sangat berpengaruh terhadap pertobatan saya adalah keterpaparan saya terhadap argumen transenden bagi keberadaan Allah atau TAG, yang mengatakan bahwa Allah adalah prasyarat mutlak bagi pengetahuan. Memang benar demikan dan Dia membuat saya memahami hal ini. Namun TAG tampaknya tidak diformulasikan dengan baik dan jarang dipahami oleh orang kebanyakan (orang percaya maupun orang tidak percaya) karena tidak ada kaitan solid dengan realitas. Dalam pengalaman saya, argumen ini tidak ada arti apa-apa kalau kecuali ditandai dengan perasaan kesementaraan—walaupun orang akan secara inituitif menangkap arti pentingnya dan bahkan kebenarannnya, tidak ada proposisi yang teguh yang dapat dipahami oleh pikiran. Yang ada hanyalah lambaian filosofis dan rujukan pada prakondisi yang samar-samar bagi pengetahuan dan tentunya dipunyai pandangan dunia Kristen namun yang tampaknya tidak dapat dibuktikan oleh penganut TAG.
Pada dasarnya hal ini disebabkan karena TAG bergantung pada Allah sebagai prakondisi bagi pengetahuan, dan secara tidak wajar mengabaikan pentingnya Kitab Suci. Karena itu, pada saat saya berada dalam dalam genggaman nafas kematian ateisme secara inituitif saya memang memahami bahwa kesimpulan TAG benar, dan menyadari bahwa penerapannya persuasif, tetapi sekarang saya tidak percaya bahwa argumen itu benar-benar alkitabiah. Saya percaya pula bahwa argumen ini tidak berguna untuk orang Kristen kebanyakan, karena terlalu mengawang-awang (airy-fairy).
Karena itu saya tidak akan terlalu banyak menyebut TAG lagi. Metode yang saya akan ulas dalam buku ini memiliki banyak kesamaan dengan TAG (terutama dalam hal kritik internal terhadap pandangan dunia orang tidak percaya), namun lebih alkitabiah, dan karena itu jauh lebih superior atau sejauh ini superior??. Lebih penting lagi, metode ini jauh lebih mudah dipahami dan diterapkan, jauh lebih sederhana—dan karena itu jauh lebih tidak terkalahkan.
Buku ini berawal dan diformat dari serangkaian artikel blog yang saya tulis pada akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007. Tulisan-tulisan ini merupakan upaya saya untuk menawarkan studi sistematik terhadap pengantar apologetika alkitabiah. Saya melakukannya terutama karena saya belum menemukan eksposisi sistematis terhadap apologetika alkitabiah yang lengkap dan yang dapat dengan mudah diakses (maksud saya yang dapat didownload dengan bebas dalam bentuk file PDF, dan dalam versi buku yang murah), —walaupun hal sepertu itu sangat diperlukan. Buku-buku Vincent Cheung Presuppositional Confrontations dan Ultimate Questions, serta Apologetics in Conversation dan tentunya Systematic Theology memang merupakan studi yang baik dan luas tentang apologetika dan filsafat alkitabiah. Namun tulisan-tulisan ini tidak memberikan gambaran singkat dan sistematis yang dibutuhkan orang Kristen kebanyakan untuk memahami semua prinsip apologetika alkitabiah walaupun sudah membacanya dari awal sampai akhir.
Perhatikan bahwa saya katakan prinsip dasar. Jika anda mulai membaca buku ini dengan harapan bahwa buku ini berisi 1001 bantahan terhadap 1001 kepercayaan yang tidak alkitabiah, maka anda akan kecewa. Tujuan saya bukanlah untuk menulis sejumlah besar pertanyaan dan argumen yang dapat dipelajari dengan cara dihafal. Belajar dengan menghafal hanya baik untuk anak-anak; orang dewasa harus mampu memahami prinsip-prinsip dasar dibalik pertanyaan dan argumen sehingga dapat secara fleksibel merumuskan argumen sesuai keperluan. Tentu saja apabila memungkinkan saya berusaha mengilustrasikan prinsip-prinsip yang saya bahas menggunakan contoh yang relevan dan kongkrit yang saya angkat dari pengalaman saya berapologetika. Saya juga menyertakan tulisan tambahan tentang sains yang mendemonstrasikan penerapan prinsip-prinsip apologetika dalam mengritik pandangan dunia ilmiah. Namun contoh-contoh ini tidak dimaksudkan sebagai bahan untuk dihafal karena masih ada banyak contoh lain yang mungkin diangkat. Kalau anda tidak memahami prinsip-prinsip yang merupakan dasar dari contoh-contoh tersebut, maka apapun yang anda pelajari dengan cara menghafal tidak akan berguna. Dalam perjumpaan apologetika anda mungkin saja dibungkam sebuah pertanyaan yang sebenarnya anda bisa jawab andaikata dirumuskan dengan cara yang berbeda.
Jadi tujuan saya menulis buku ini adalah untuk memberikan pemahaman yang sistematis tentang prinsip-prinsip apologetika alkitabiah sehingga setiap orang Kristen tidak perlu mengembangkannya sendiri-sendiri. Saya perlu waktu tiga tahun untuk menyusun berbagai pengetahuan yang saya dapatkan dari berbagai tulisan Vincent Cheung dan Gordon Clark serta penulis lain menjadi sesuatu merupakan pemahaman yang benar dan tidak tergoyahkan tentang presupposisionalisme alkitabiah—dan berdasarkan pengalaman saya sebagian besar orang percaya memerlukan waktu yang lebih lama dari itu untuk memahaminya, andaikata mereka dapat bertahan sama sekali. (saya tidak sombong; saya dapati bahwa Allah berkenan memberikan saya pikiran yang mampu dengan lebih mudah memahami pemikiran presupposisional dibanding banyak orang.)
Mungkin Vincent sendiri berpendapat bahwa saya sedikit lambat dan bahwa karyanya sangat jelas. Saya tentu saja tidak berpura-pura bahwa saya lebih mampu dari beliau. Namun kalau saya lambat, maka setidak-tidaknya saya lebih mampu untuk menulis bagi mereka yang lambat seperti saya yaitu mereka yang tidak diberi anugerah kepintaran yang luar biasa atau waktu untuk belajar banyak. Saya telah berkesempatan melakukan perdebatan panjang dengan sejunlah besar orang tidak percaya di berbagai forum internet dan walaupun pemahaman yang saya dapatkan dari berbagai karya Vincent memampukan saya untuk dengan mudah dan tidak tergoyahkan menghancurkan setiap pandangan dunia orang non-Kristen, tulisan Vincent tidak memampukan saya menjelaskan dengan bahasa yang jelas mengapa pandangan dunia Kristen harus diterima kebenarannya. Saya juga mendapati bahwa saya tidak mampu untuk menjawab banyak tantangan dan pertanyaan yang sering dijumpai di forum-forum perdebatan online, yang kemungkinan besar tidak terpikirkan oleh filsuf Kristen berpengalaman pada saat menulis buku tentang presupposisionalisme alkitabiah.
Dengan kata lain, tidak seperti yang dilakukan Vincent (Saya menyebutkan Vincent karena dia adalah penulis yang karyanya paling mudah diakses online, dimana tulisan-tulisannya bebas tersedia sebagai bentuk kasih Kristen yang tulus, dan karena itu saya banyak belajar dari tulisan-tulisannya), saya ingin menawarkan sumber bacaan yang pada dasarnya meniru pertemuan apologetika ideal dari awal sampai akhir; bukan dimulai dari tengah dan mundur ke belakang, tidak juga menghilangkan atau terlalu menakankan banyak hal rinci dan prinsip-prinsip yang cenderung dihilangkan atau terlalu ditekankan dalam berbagai tulisan yang saya pernah baca. Walaupun kebanyakan yang saya tulis dapat digabung-gabungkan dari tulisan Vincent atau presupposisionalis lainnya seperti Bahnsen atau Clark, tujuan saya adalah untuk menjawab kebutuhan orang Kristen kebanyakan yang tertarik dengan apologetika alkitabiah —yang mungkin sedikit mengetahui tentang hal itu, namun yang bingung dan tidak bersemangat karena kerumitan dan fragmentasi literatur yang tersedia. Kalau kita mengeluh tentang sikap anti-intelektual di antara orang percaya dan pentingnya pendidikan, upaya kita untuk mengoreksi hal ini tentu saja tidak dengan membiarkan orang Kristen kebanyakan untuk menyusun sendiri-sendiri pemahaman praktis tentang apologetika dari berbagai dokumen yang panjang yang berisi banyak teori, sedikit contoh, dan seringkali banyak duplikasi. Perbaikan tidak mungkin terjadi dengan cara demikian.
Saya harap anda tidak salah paham. Seperti yang saya katakan, saya banyak belajar dari berbagai tulisan Vincent dan sangat berterima kasih karena bahan-bahan tersebut serta untuk masukan-masukan pribadi yang dia berikan pada saya. Namun menurut pemahaman saya, tulisan beliau banyak sekali mengandung diskusi tapi kurang terorganisir; atau sangat terorganisir namun kekurangan kaitan dengan situasi orang percaya yang belum banyak belajar. Saya sangka hal ini dikarenakan pikirannya sudah begitu sesuai dengan metode alkitabiah sehingga dia kesulitan menempatkan diri dalam posisi sebagai orang yang tidak tahu apa-apa tentang metode alkitabiah, seperti yang dapat disimpulkan dari diskusinya tentang bagaimana mengantisipasi keberatan orang tidak percaya. Jadi, saya tidak mengeritik beliau sama sekali; sebaliknya saya berharap apa yang saya tulis dan akan terus tulis akan melengkapi dan bahkan mungkin pula menjelaskan karyanya tetapi bukan menggantikan tulisan beliau.
Dengan demikian, buku ini bukan hanya akan berguna sebagai pengantar apologetika. Penyajian apologetika alkitabiah akan berupa penyajian filsafat alkitabiah—dan penyajian filsafat alkitabiah akan cenderung berhasil dilakukan dengan mengevaluasi berbagai konsep filsafat yang lebih umum. Dengan memeriksa konsep-konsep ini, pada gilirannya akan secara alamiah mengarahkan kepada diskusi tentang kegagalan total filsafat sekuler; sehingga akhirnya akan merupakan mata rantai yang ditutup dengan penyajian apologetika lagi.
Jadi jangan berpandangan bahwa buku ini hanya berguna untuk mempertahakan iman semata—karena semua upaya mempertahankan iman hanya akan berguna apabila anda memahami pemikiran alkitabiah; dan pemahaman anda tentang pemikiran alkitabiah menentukan iman anda dari berbagai segi. Karena itu, anggap saja buku ini sebagai buku teks tentang pemikiran alkitabiah secara umum yang dikembangkan dalam konteks untuk secara khusus untuk membantah pemikiran tidak yang alkitabiah. Tujuannya bukan semata-mata untuk mengajarkan apologetika, namun juga mengajarkan dasar-dasar pemikiran yang Alkitabiah yang merupakan dasar apologetika dan segala sesuatu yang terkait iman kita.
Pada saat anda sudah memiliki pemahaman yang solid terhadap pemikiran alkitabiah, or presupposisionalisme, atau yang disebut beberapa kalangan sebagai rasionalisme atau foundasionalisme alkitabiah, apologetika akan menjadi suatu hal yang ringan. Sebenarnya, apologetika itu begitu mudahnya sehingga tidak perlu sama sekali belajar lebih lanjut apabila anda telah mempelajari dasar-dasarnya (asalkan saja anda terus-menerus secara sistematis menyesuaikan pemikiran anda dengan firman Allah). Tidak perlu khawatir tentang kemampuan anda atau mempersiapkan diri sebelumnya, atau pada waktu-waktu tertentu mengasah kemampuan anda; karena anda akan selalu siaga. Sepanjang anda berpikir secara Alkitabiah, (yang memang seharusnya anda lakukan), anda akan mendapati diri anda membantah pemikiran yang tidak alkitabiah secara alamiah. Argumentasi tanpa tandingan akan mengalir dengan mudah dan dengan sendirinya dari pengenalan akan Allah sehingga upaya membantah argumen dari setiap orang tidak percaya menjadi begitu mudah bahkan membosankan (saya tidak sementara mengada-ada). Andaikata saja anda memiliki pemahaman yang sederhana tentang firman Allah dan tentang kebenaran dasar dan wajib mengenai pertanyaan mendasar/mutlak tentang realitas, maka anda sudah jauh lebih kompeten secara intelektual dibanding setiap orang tidak percaya dan karena itu tidak mungkin anda gagal memenangkan setiap diskusi apologetika dengan gemilang. Sekurang-kurangnya buku ini mengajarkan anda tingkat kecakapan yang demikian.
Walaupun buku ini diformat dari blog saya, saya mendapat keuntungan dari berbagai umpan balik yang saya terima terhadap artikel asli. Hal ini memungkinkan saya untuk memperluas atau merevisi diskusi asli dalam hampir setiap aspek sehingga menghasilkan studi yang lebih jelas dan menyeluruh. Bagian tertentu yang saya anggap membingungkan atau saya ingin tambahkan tetapi tidak memungkinkan karena akan terlalu panjang [pada blog], telah dibahas lebih panjang lebar dalam edisi buku ini apabila tidak terlalu memakan tempat. Ada juga bagian lain yang telah dirombak habis-habisan sehingga alur berpikirnya lebih terstruktur dan lebih koheren. Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada Jim dan Don dan Ayah serta Michael atas bantuannya untuk memperbaiki penampilan buku ini sehingga menjadi lebih baik dari pada tampilan rangkaian artikel blog yang merupakan sumber buku ini. Doa saya semoga buku ini bermanfaat.
Bersambung ke: sini