Jesus is the Only Saviour/ Yesus Satu-Satunya Juruselamat

Blog EntryThe Wisdom of God 2Jun 11, '08 6:07 AM
for everyone

Sambungan dari: sini



Pendahuluan




Bukan suatu yang mengejutkan bahwa jika kita sudah memiliki keinginan/kecenderungan, maka kita selalu siap untuk berusaha mempelajari dan bahkan sampai mencapai kemajuan yang berarti dalam studi yang rumit, tanpa memperhitungkan kemampuan yang melekat dalam diri kita. Sebagai contoh, banyak orang muda dari negara-negara Asia mempelajari tentang obat-obatan setelah mereka menamatkan Sekolah Menengah—bukan karena mereka menginginkannya tetapi karena ada keharusan dari orang tua mereka. Anak-anak ini pada umumnya berhasil dan bahkan berhasil secara gemilang dalam bidang tersebut karena kebanggaan dan kesetiaan kepada keluarga yang telah tertanam dalam diri mereka mendorong mereka berbuat yang terbaik. Keberhasilan mereka tidak diakibatkan karena adanya kemampuan yang melekat dalam diri mereka untuk mempelajari obat-obatan—justeru mungkin ada sebuah kekurangan dalam diri mereka karena adanya bias dalam studi tentang obat-obatan yang cenderung berorientasi Barat, Inggris, dan Latin. Keberhasilan mereka didorong motivasi untuk menerapkan bidang yang dipelajari dan tidak mengaitkannya dengan kemampuan/hak mereka dibanding teman mereka yang berasal dari dunia Barat.

Serupa dengan itu, beberapa orang yang memiliki pemahaman teologia yang sangat baik tidak selalu memiliki tingkat intelektual yang tinggi; mereka tidak dengan mudah memahami konsep-konsep filosofis yang bagi orang lain tampak mudah dipahami dan mereka bergumul memahami jawaban - jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu yang bagi orang lain tampak jelas—namun orang-orang ini mengabdikan sebagian besar energi mentalnya untuk mempelajari dan memahami Alkitab. Namun jelas orang-orang ini tidak akan pernah melakukan upaya intelektual apalagi studi teologis yang mendalam tanpa memiliki kecenderungan untuk melakukannya. Dan mereka tidak akan pernah bisa memiliki kecenderungan yang demikian tanpa pertama-tama dihidupkan secara intelektual oleh Allah. Kasih mereka terhadap Allah dan keinginan untuk memperdalam hubungan mereka dengan Dia melalui pengenalan yang lebih baik tentang Dia yang mendorong mereka untuk mempelajari Alkitab setiap hari.

Saya mengangkat hal ini karena sebagai orang Kristen kita seharusnya memiliki semangat untuk mengenal Allah. Kita perlu memiliki kesungguhan untuk memahami dan memperoleh pemahaman yang mendalam dalam bidang teologi dan kerajaan Allah—terlepas dari kemampuan melekat dalam diri kita. Namun demikian, sedikit sekali orang Kristen yang memiliki pemahaman dasar tentang firman Allah yang dibutuhkan untuk memahaminya secara teguh (confidently understand), dan dengan keberaninan mempertahankan dan menjelaskannya kepada orang bukan Kristen. Saya berani mengatakan demikian karena sebelum ini saya adalah pembela Setan yang paling gigih. Sebagai seorang ateis, saya tidak tergganggu sama sekali oleh argumen yang dikemukakan oleh orang Kristen yang saya debat—apa lagi dikalahkan oleh oleh serangan alkitabiah yang tepat. Alasan kegagalan orang percaya untuk menghancurkan posisi orang non-Kristen pada dasarnya terletak pada orang non-Kristen itu sendiri.

Orang tidak percaya menderita kecenderungan yang membuat mereka cenderung menghindari apapun yang mengekspos kebebalan dan kesia-siaan pikiran mereka. Mereka pada dasarnya sangat menolak filsafat alkitabiah sehingga sebagai komunitas mereka menekan (suppressed) gagasan tentang hal seperti itu. Setiap bentuk pemikiran yang beresiko menyibak pengetahuan akan Allah disingkirkan (trained out) dari pemikiran orang melalui kombinasi opresi terselubung dan pengabaian. Opresi mengambil bentuk sebagai cemoohan, penyebarluasan gagasan bahwa iman dan akal budi tidak kompatibel satu dengan yang lain, atau apati terhadap orang yang menyatakan ketertarikan akan gagasan alkitabiah. Pengabaian (Neglect) mengambil bentuk sebagai upaya mempertahankan status quo apabila opresi telah menunjukkan hasil. Karena itu epistemologi dan metafisika serta apologetika adalah kata-kata yang tidak dikenal lagi oleh banyak orang karena kata-kata ini merujuk pada kata-kata yang akan secara terbuka mempermalukan pemikiran duniawi dan menunjukkan kesia-siaan pemikiran manusia yang ditundukkan kepada Kristus.

Dengan adanya sikap duniawi terhadap filsafat tidaklah mengejutkan (walaupun mengecewakan) kalau orang Kristen tidak lebih familiar dengan filsafat alkitabiah dibanding orang tidak percaya. Bukankah kita hidup di dunia dan sulit untuk tidak dipengaruhi oleh filsafat duniawi dalam kadar tertentu? Karena epistemiologi dan sejenisnya tidak dibahas secara eksplisit dalam Alkitab dengan menggunakan istilah-istilah teknisnya, dan karena hal itu tidak dikenal oleh masyarakat secara umum, maka orang Kristen mungkin dapat dimaafkan kalau tidak pernah mendengar istilah seperti itu apalagi arti pentingnya. Namun demikian, ekspoisi terhadap sekurang-kurangnya elemen mendasar dari filsafat Kristen sepatutnya menjadi bagian mendasar dari ajaran Alkitabiah dan pendidikan Kristen sehingga orang percaya dapat secara tepat diperlengkapi untuk mampu menghancurkan semua argumen irasional yang disodorkan orang tidak percaya, menjadi kompeten dalam mengevaluasi argumen teologis yang disodorkan oleh orang Kristen lain, dan secara mutlak memiliki dasar yang wajib dimiliki untuk membangun iman lewat belajar teologi.

Sayangnya, jarang sekali orang Kristen yang memiliki sedikit saja pengetahuan yang superfisal tentang filsafat alkitabiah. Walaupun mereka telah memiliki pengetahuan teologis yang luas, teguh dalam iman dan kebenaran, selalu siap memberitakan injil, dan mengenal seluk-beluk Firman Allah, namun mereka tidak terlatih dalam filsafat yang mendasari Kitab Suci. Namun sebenarnya filsafat ini tidak kurang dari ikat pinggang kebenaran yang mempersatukan semua senjata Allah (Ef 6:14)! Ikat pinggang adalah komponen penting dalam perangkat senjata karena mengikatkan senjata pada badan dan menahan berat senjata tersebut. Selain itu ikat pinggang juga merupakan pedukung bagi senjata pada bagian kaki. Ikat pinggang juga bertindak sebagai titik untuk menggantungkan senjata dan mengamankan peralatan. Namun demikian, orang Kristen membaca Alkitab tanpa diperlengkapi dengan komponen integral yang mendukung dan menyatukan ajaran-ajaran Alkitab ini—sehingga mereka masuk ke dalam dunia untuk melakukan peperangan rohani (2 Kor 10:5) dengan perangkat yang dapat runtuh kapan saja. Dengan demikian, orang Kristen tidak saja menjadi teolog yang kurang mampu (semua orang Kristen adalah teolog) namun juga apologis yang kurang mampu (semua orang Kristen juga adalah apologis.)

Tanpa ikat pinggang kebenaran—yaitu tanpa pengetahuan yang hidup (working knowledge) tentang natur kebenaran—kita tidak dapat terlibat dalam peperangan rohani dengan keberanian seperti yang dianjurkan oleh Kitab Suci, karena kita tidak memiliki jaminan akan keteguhan posisi kita dibandingkan dengan posisi orang tidak percaya. Dengan demikian kita juga tidak akan mampu memahami betapa tidak ketulungannya kebangkrutan dan impotensi posisi mereka. Bukan hanya kurang bijaksana, kurang pengetahuan, atau kurang pemahaman kalau menyangkal keberadaan Allah dibanding mengakui dan memproklamirkan keberadaan-Nya, tetapi dengan menyangkal keberadaan Allah juga pengetahuan atau pemahaman yang benar juga menjadi tidak mungkin untuk dimiliki serta tidak mungkin pula memberikan justifikasi terhadap setiap klaim yang menyangkal keberadaan Allah. Klaim ini kedengarannya terlalu berani dan mungkin pula tidak ada benarnya sama sekali; tetapi dalam buku ini saya akan secara sistematis menunjukkan mengapa hal itu memang demikian adanya dengan memberikan uraian yang jelas ikat pinggang kebenaran itu sehingga anda dapat langsung mengambil dan mengenakannya.

Karena itu saya akan mulai dengan ulasan singkat tentang metode apologetika alkitabiah sebelum beranjak ke diskusi mengenai filsafat yang mendasarinya. Pembahasan ini termasuk definisi pandangan dunia (worldview), yang dimulai dengan prinsip-prinsip pertama, kemudian metafisika, sebelum pindah ke epistemologi dan hal-hal lain. Setelah itu, saya akan mengambil waktu untuk membahas prinsip pertama alkitabiah, lalu kemudian mengkonfirmasi dan mengakhiri pembahasan ini dengan pembahasan mengenai pandangan alkitabiah tentang logika dan akal budi. Setelah selesai, saya menyertakan sebuah bab sebagai lampiran untuk mengkonsolidasikan dan mendemonstrasikan metode apologetika yang telah saya kemukakan dengan mengkritik dan membantah pandangan dunia ilmiah.

Mungkin ini kedengaran sedikit menjemukan, teknis, dan rumit. Namun ikat pinggang kebenaran yaitu fondasi bagi pemikiran yang rasional tidak teknis atau rumit sama sekali. Dengan sedikit pertimbangan kelihatan bahwa hal itu jelas dan wajib. Walaupun orang dapat saja mempelajarinya secara kompleks, tetapi yang saya sajikan di sini mudah dan sederhana. Jangan membiarkan ketidakpahaman anda tentang topik ini menghalangi anda.


Bersambung ke: sini

Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help