Di bawah ini adalah terjemahan tulisan Dr. William Dembski yang saya kutip dan terjemahkan dari sebuah essai yang lebih panjang yang membahas tentang asal - usul manusia. Dalam tulisan yang dikutip ini diindikasikan bahwa pikiran bukanlah hasil dari reaksi otak semata seperti yang dipercaya mereka yang ditipu oleh filsafat materialisme dan naturalisme.
Keuntungan Otak yang Lebih Kecil
…………Dalam literatur evolusi, semua kemampuan kognitif luar biasa yang manusia miliki — jenius matematika, jenius musik, jenius puisi—[dianggap] memprasyaratkan adanya otak besar. Entah kemampuan tersebut merupakan adaptasi, produk sampingan, maupun hasil seleksi seksual; teori evolusi menganggap otak besar sebagai penyebab dari kemampuan – kemampuan tersebut. Memang benar bahwa otak besar berkorelasi dengan meningkatnya inteligensia. Namun [hubungan] korelasi, seperti dimaklumi oleh semua orang yang telah mengambil mata kuliah metodologi penelitian, bukanlah [hubungan] sebab akibat. Lebih jauh lagi, dalam kasus ini korelasinya jauh dari sempurna.
Sebagai contoh, istilah “bird-brain ” telah memasuki kosa kata popular dan merujuk kepada seseorang dengan otak yang kecil dan inteligensia rendah. Namun demikian, beberapa jenis burung, memiliki kemampuan intelektual luar biasa yang jauh melebihi apapun yang kita harapkan berdasarkan ukuran otak. Pikirkanlah penelitian Irene Pepperberg terhadap Alex, yaitu salah satu dari empat parrot African Grey yang telah dia latih:
| ”Alex, yang tertua, dapat menghitung, mengenali obyek (benda), bentuk, warna dan bahan, mengetahui konsep sama dan berbeda, dan memberi perintah kepada asisten laboratorium untuk memodifikasi lingkungannya. [Para Peneliti] telah mulai bekerja dengan phonics dan ada bukti untuk menyatakan bahwa satu saat nanti, Alex mungkin bisa membaca.” |
Dengan anomali – anomali semacan itu, mengapa kita harus berpikir bahwa otak yang besar dibutuhkan untuk fungsi kognitif yang lebih tinggi? Ada laporan yang dapat dipercaya tentang orang yang memiliki fungsi kognitif yang luar biasa dengan ukuran otak yang jauh lebih kecil. Sebagai contoh, Majalah Science edisi 12 December 1980 memuat sebuah artikel oleh Roger Lewin yang berjudul “Apakah Otak Anda Benar – Benar Dibutuhkan?” Dalam artikel tersebut, Lewin melaporkan sebuah studi kasus oleh John Lorber, seorang ahli syaraf Inggris dan profesor pada Sheffield University:
| “ Ada seorang mahasiwa muda di universitas ini,” kata Lorber, “yang memiliki IQ 126, mendapatkan gelar penghargaan kelas – satu bidang dalam matematika, dan sepenuhnya normal secara sosial. Namun demikian pemuda itu hampir tidak memiliki otak.” Dokter mahasiswa pada universitas tersebut mendapati bahwa si pemuda memiliki kepala yang sedikit lebih besar dari kepala normal, dan karena itu merujuknya kepada Lorber hanya karena rasa ingin tahu. “Pada saat kami melakukan scan terhadap otaknya,” ujar Lorber, “bukannya jaringan otak yang biasanya ketebalannya 4,5 cm yang kami dapati antara ventricles dan permukaan corticalnya, namun yang ada hanya sebuah selaput tipis yang ukurannya sekitar 1 milimeter. Rongga kepalanya kebanyakan berisi cairan cerebrospinal.” |
Contoh lain adalah kasus Louis Pasteur. Seperti yang diungkapkan Stanley Jaki,
| "Otak bisa saja telah rusak sebagian besarnya namun masih berfungsi secara luar biasa.... Contoh kasus terkenal adalah Pasteur, yang pada puncak kariernya menderita kecelakaan [yang merusak] otak, namun selama bertahun – tahun setelahnya masih melakukan penelitian yang membutuhkan abstraksi tingkat tinggi dan masih mengingat semua yang dipelajarinya selama 40an tahun awal kehidupannya. Hanya setelah otopsi menyusul kematiannya didapati bahwa dia telah hidup dan bekerja selama bertahun – tahun dengan menggunakan hanya setangah dari otaknya, sementara yang setengahnya telah sepenuhnya lumpuh." |
………….
Sumber: http://www.designinference.com/documents/2004.06.Human_Origins.pdf