Di bawah ini adalah koresponden saya dengan seseorang di salah satu milis kristen. Saya tampilkan di sini karena ini adalah cerminan pandangan saya tentang sains.
Email pertama DZ
|
Jesus may have walked on ice?
Wed Apr 5, 2006 11:02 AM ET |
By Jim Loney
MIAMI (Reuters) - The New Testament says that Jesus walked on water, but a Florida university professor believes there could be a less miraculous explanation -- he walked on a floating piece of ice.
Professor Doron Nof also theorized in the early 1990s that Moses's parting of the Red Sea had solid science behind it.
Nof, a professor of oceanography at Florida State University, said on Tuesday that his study found an unusual combination of water and atmospheric conditions in what is now northern Israel could have led to ice formation on the Sea of Galilee.
Nof used records of the Mediterranean Sea's surface temperatures and statistical models to examine the dynamics of the Sea of Galilee, which Israelis know now as Lake Kinneret.
The study found that a period of cooler temperatures in the area between 1,500 and 2,600 years ago could have included the decades in which Jesus lived.
A drop in temperature below freezing could have caused ice thick enough to support a human to form on the surface of the freshwater lake near the western shore, Nof said. It might have been nearly impossible for distant observers to see a piece of floating ice surrounded by water.
Nof said he offered his study -- published in the April edition of the Journal of Paleolimnology -- as a "possible explanation" for Jesus' walk on water.
"If you ask me if I believe someone walked on water, no, I don't," Nof said. "Maybe somebody walked on the ice, I don't know. I believe that something natural was there that explains it."
"We leave to others the question of whether or not our research explains the biblical account."
When he offered his theory 14 years ago that wind and sea conditions could explain the parting of the Red Sea, Nof said he received some hate mail, even though he noted that the idea could support the biblical description of the event.
And as his theory of Jesus' walk on ice began to circulate, he had more hate mail in his e-mail inbox.
"They asked me if I'm going to try next to explain the resurrection," he said.
DZ
Ini Terjamahannya:
|
Yesus mungkin berjalan di atas es?
Wed Apr 5, 2006 11:02 AM ET |
Oleh Jim Loney
MIAMI (Reuters) – Perjanjian Baru mengatakan bahwa Yesus berjalan di atas air, namun seorang profesor di universitas Florida percaya bahwa kemungkinan ada penjelasan yang kurang spektakuler tentang hal itu -- yaitu Dia [Yesus] berjalan di atas potongan – potongan es yang terapung.
Profesor Doron Nof juga berteori pada awal tahun 1990an bahwa terdapat dasar ilmiah di balik peristiwa Musa membelah Laut Merah.
Nof, professor oseanografi di Universitas Negara Bagian Florida, mengatakan pada hari Selasa bahwa studinya menemukan kombinasi yang tidak biasa antara air dan kondisi atmosfir di tempat yang kini dikenal sebagai Israel Utara yang memungkinkan pembentukan es di Laut Galilea.
Nof memanfaatkan catatan suhu permukaan Laut Mediterania dan model statistik untuk memeriksa dan dinamika Laut Galilea, yang sekarang dikenal sebagai Danau Kinneret oleh Orang Israel masa kini.
Studi tersebut menemukan bahwa ada periode dimana suhu lebih rendah pada masa antara 1,500 dan 2,600 lalu yang didalamnya kemugkinan dekade masa hidup Yesus.
Penurunan suhu di bawah titik beku bisa menyebabkan terbentuknya es yang ketebalannya cukup untuk medukung manusia pada permukaan danau air tawar dekat pantai barat, kata Nof. Kemungkinannya sangat tipis bagi orang yang berada di jauh untuk melihat potongan – potongan es yang terapung yang dikelilingi air.
Nof mengatakan bahwa dia menawarkan studinya – yang diterbitkan pada edisi April dari Journal of Paleolimnology – sebagai "kemungkinan penjelasan" bagi kenyataan Yesus berjalan di atas air.
"Jika anda bertanya apakah saya percaya ada orang yang berjalan di atas air, [maka jawabannya adalah] tidak, saya tidak percaya," Nof berkata. "Mungkin ada orang yang berjalan di atas es, saya tidak tahu. Saya percaya bahwa ada sesuatu yang alamiah (natural) yang dapat menjelaskannya."
"Kita membiarkan orang lain untuk memutuskan apakah penelitian kami menjelaskan ceritera Alkitab."
Pada saat dia menawarkan teorinya 14 tahun lalu bahwa kondisi angin dan laut dapat menjelaskan terbelahnya Laut Merah, Nof mengatakan bahwa dia menerima email yang mengutuknya, walaupun dia menyatakan bahwa gagasannya bisa mendukung gambaran Alkitab tentang kejadian tersebut.
Dan seiring dengan mulai tersebarnya teorinya tentang Yesus berjalan di atas air, dia menerima lebih banyak email semacam itu dalam kotak masuk emalinya.
"Merka bertanya apakah saya nanti akan mencoba menjelaskan kebangkitan [Kristus]," ujarnya.
Reply Jesus Saves Pertama
Yes,
He is right. The key word is “may”. SO…it is only a suggestion. Great! Anyway, I will never buy any scientific explanation as the ultimate.
Regards
[snip]
Reply dari V
Agree Brother...
Science aja nggak bener ngeramalain cuaca besok,
gimana kita bisa percaya mereka tahu yang terjadi 20 abad yang lalu.
anyway case Jesus walk on the ice nggak cocok sama perikopnya;
Matius 14
24 Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.
25 Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.
26 Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut.
27 Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!"
28 Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."
29 Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.
30 Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!"
31 Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
32 Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah.
33 Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah."
Ayat 24.
Bisakah para muridNya berlayar diatas es beberapa mil jauhnya?
Adakah gelombang pada pelayaran es?
Ayat 26
Anda terperangkap diatas es, kemudian ada orang yang berjalan mendekati anda
berjalan diatas es, apakah anda akan terkejut ketakutan seperti murid2 Tuhan Yesus,
bukankah itu hal yang biasa saja?
Ayat 28
Adakah Petrus ragu berjalan diatas Es?
Dia tahu butuh mujizat untuk berjalan seperti yang Yesus lakukan,
kalau dia tahu hal itu biasa saja, dia tidak akan mengatakan hal itu.
Ayat 30
Apakah tiupan angin membuat orang kejeblos dalam es?
ayat ini bilang tenggelam bukan kejeblos.
Ayat 33
Murid2Nya enggak mungkin orang2 gila yang norak2 amat,
menyembah seseorang sebagai Tuhan hanya karena baru berjalan diatas Es.
Any way, ever heard ditimur tengah udaranya sangat dingin sampai membuat air membeku?
Not make any sense, even in science....
God Bless...
[snip]
Reply Pertama DZ
Shalom,
Kalau bisa kita tidak sekedar memberi bantahan tetapi penjelasan yang memadai. Iman itu tidak bertentangan kog dengan pengetahuan, dan jangan juga anti pengetahuan sebab kita hidup sekarang juga (sekalipun dengan iman) tetapi di atas berbagai penemuan pengetahuan.
Milis ini (sesuai namanya) setidaknya memberi bantahan yang sama bobotnya dengan "penyimpangan" yang dilakukan. Kita harus menjadi generasi kristiani yang menjawab dengan bobot iman dan ilmiah yang berimbang dan memadai.
DZ
Reply Kedua Jesus Saves
Hi [snip],
Saya katakan bahwa sains tidak memberikan kebenaran “mutlak”. Coba perhatikan, teori sains mana yang pernah bertahan tanpa koreksi? Paling banter sains hanya memberikan hasil – hasil praktis.
Trus..harus dipertanyakan juga asumsi – asumsi dasar sains. Sains dalam pengertian yang sekarang seperti yang dianut oleh para ahli (saya tidak tahu apakah termasuk saints kristen – tapi saya condong berpendapat bahwa ahli – ahli kristen sekalipun termakan oleh filasat yang mandasari saintifik world saat ini tanpa sadar) merujuk kepada penjelasan yang naturalistik terhadap fenomena alam. Coba aja perhatikan aja yang terjadi dalam komunitas ilmiah sekarang (terutama di Amerika Serikat) dimana sebuah teori sains yang memiliki implikasi adanya supranatural aja ditentang habis – habisan. So,...No...there is no truth at all in science. Dunia sains seperti yang kita kenal sekarang disetir oleh pandangan dunia yang ateistik dan naturalistik.
Satu lagi, metode sains untuk mendapatkan kebenaran aja sudah nggak benar. Betuk logika macam apa yang dilakukan oleh sains dalam mendapatkan hasilnya? Well, apa lagi kalau bukan induksi! Dan induksi selalu merupakan sebuah kesalahan formal dalam logika. Kesalahan yang inheren dalam sains adalah sains selalu terperangkap dalam apa yang disebut sebagai ”the fallacy of affiming the consequence”.
Si Einstein saja yang berkecimpung begitu lama dalam sains menyatakan bahwa dia tidak pernah menganggap teorinya benar walaupun semua prediksi dari teorinya ternyata benar!
Si Bertrand Russel (seorang matematikus, filsuf dan ahli logika ateis yang tentunya tidak punya kepentingan menjelek – jelekkan sains) mengakui akan logical fallacy dalam sains.
Regards,
[snip]
Reply DZ kedua (font Hitam) dan Reply Jesus Saves ketiga (font biru)
Shalom [snip],
Saya pikir pembicaraan ini kita lanjutkan lewat japri saja. Tapi kalau anda merasa bahwa pertukaran ini perlu ditampilkan di milist supaya ada banyak yang bisa berpartisipasi, anda boleh posting di sana! Tapi aku hanya berpikir itu tidak terlalu produktif!
Maaf saya mengajukan e-mail saya tidak dalam maksud untuk menyerang kekristenan,
Sorry pak [snip], saya juga tidak berpikir bahwa anda sementara menyerang kekristenan. Sorri kalau tampaknya aku berpikir demikian! Saya juga sadar bahwa anda adalah orang kristen. So, ini adalah internal discussion between christians!
tetapi sebagai bahan masukan buat kita
Thanks
bahwa kembali lagi ada orang (bukan sainsnya) yang memakai sains untuk menyerang kekristenan.
Itu pasti! Tapi yang menjadi pertanyaan saya adalah sejauh mana sains dapat memberikan kebenaran? Seberapa valid metode sains sehingga kita harus mempercaya sains memberikan kebenaran? Kalau sains saja sudah tidak dapat memberikan kebenaran maka dengan sendirinya serangan dari mereka – mereka itu tidak ada apa – apanya? That’smy point!
Sekarang setelah membaca e-mail anda saya merasa aneh,
Nggak apa – apa mas. Memang mungkin terbaca aneh!
dan saya nggak ngerti maksud anda menanggapi komentar dan ajakan saya.
Sori mas, aku juga tidak ngerti mengapa anda balas email kami (saya dan voice)! Selain itu, saya juga tidak ngerti kenapa dalam email sebelumnya pada saat saya berbicara tentang sains, anda berbicara tentang pengetahuan! Apakah pengetahuan itu identik dengan sains?
Kog anda malah seolah-olah mencoba 'menggurui' saya
Sory kalau aku kentara menggurui! Saya nggak ngerti kenapa nampak menggurui! Mungkin anda salah ngerti! Atau saya salah pilih kata – kata.
dengan mencoba memberitahu soal kegagalan teori-teori Einstein dan Russell.
Sori anda salah ngerti. Saya tidak sementara memberitahukan kegagalan teori Einstein dan Russel. Saya tidak berbicara tentang teori Russel dan Einstein. Saya sementara tulis pandangan mereka tentang sains.
Ah itu mah teori lama, dan maaf seribu maaf saya juga sudah lama tidak lagi merujuk teori mereka sebagai teori pengetahuan yang memadai.
Lihat di atas! Anyway, andaikatapun saya berbicara tentang teori mereka dan memang teori mereka sudah out dated, pertanyaan saya adalah apakah kepastian bahwa teori baru lebih benar dari teori mereka?? Jaminannya apa untuk itu??? Please tell me!
Dan please dong ajakan saya jangan ditanggapi negatif,
Saya menanggapi negatif pandangan anda karena tampaknya anda berpandangan bahwa sains dapat memberikan kebenaran ( atau mungkin aku salah tangkap maksud anda)! Sementara saya berbeda pandangan dengan anda. Saya berpandangan bahwa sains tidak pernah memberikan kebenaran!
ajakan itu justru menjadi sebuah himbauan bagi kita untuk meninggalkan upaya pendangkalan terhadap apologet kita yang cuma berdasarkan bantahan-bantahan yang mengutip bahasa asing.
Saran diterima! Mungkin tadi aku mengutip bahasa asing! OK lain kali aku berusaha seminimal mungkin untuk tidak menggunakan bahasa asing. Anyway, kalaupun digunakan bahasa asing, apa salahnya???? Mungkin hanya perlu mengelaborasi lebih lanjut sehingga orang mengerti bahasa asing tersebut.
BTW anda pernah membaca Einstein dan Russell?
Membaca tulisan mereka secera langsung? Tidak.
Dan yang paling menyedihkan mengapa kata sains terkesan selalu dihubungkan dengan nama-nama itu.
Maaf mas, postinganku di sini masih dapat dihitung dengan jari??? Kenapa anda mengatakan „selalu“??
Padahal tidak selamanya sains selalu berhubungan dengan mereka.
Tapi anda perhatikan bahwa Russel sementara berbicara tentang dunia sains secara umum dan Einstein berbicara mengenai teorinya secara khusus! So what is the problem? Mungkin anda ingin mengutip para ahli yang teorinya tidak pernah gagal? Silahkan!
Padahal sains yang positif yang tidak bertentangan dengan Alkitab cukup banyak dan malah meninggalkan mereka!
Sori, anda berbicara tentang sains positif dan sains negatif! Saya kurang mengerti maksud anda! Mungkin anda bisa memberikan sedikit pencerahan tentang itu?
Bagi saya mengapa segi lain ini juga tidak diangkat sebagai bagian pembuktian yang obyektif dari sebuah validitas keyakinan.
Sorri, mungkin anda bisa elaborasi! Contohnya seperti apa? Kalau saya berpendapat demikian ”untuk apa ’membuktikan’ sebuah kebenaran mutlak dengan sesuatu yang tidak mutlak? Apakah itu mungkin? Kalau sains dipakai untuk ’membuktikan’ kebenaran Alkitab, secara logis mana yang lebih berotoritas?
Prof. Nof butuh sesuatu pembuktian dari kita yang bukan sekedar bantahan ucapan ”the fallacy of affirming the consequence” itu pun (maaf) bagi saya sudah kurang memadai dalam memberikan bantahan positif terhadap teori-teori sains negatif belakangan ini.
Sori yang aku inginkan adalah bagaimana kita bukan hanya bermain – main pada level – level penemuan ilmiah saja dan berdiskusi di sana serta menyesuaikannya dengan Alkitab, tapi aku ingin kita menggali lebih ke dalam dan melihat apa yang dipakai sebagai dasar dari penemuan – penemuan kelihatan hebat – hebat tersebut (dan yang diagung – agungkan) dan melihat kesalahannya di mana. (semoga aku tidak salah tangkap maksud anda) Sorri kembali pertanyaanku, anda membagi sains menjadi sains positif dan sains negatif, mungkin anda bisa kasih pencerahan!
Ingat lho bahwa mereka sama sekali tidak gentar dengan istilah-istilah kita yang mencoba 'menggertak mereka' yang pada kenyataannya kelihatannya malah sudah out of date.
Ingat mas, pada saat aku berbicara dengan siapapun entah dia ahli ataupun orang awam, tujuanku bukanlah menakut – nakuti atau membuat mereka gentar. Tidak sama sekali! Trus soal “out of date” kalau memang out of date, itu out of date menurut siapa? Apakah karena mengatakan telah out of date itu secara otomatis mereka telah menjawabnya? Atau karena mereka rasa sebagai out of date maka jadilah out of date? Apakah mereka sudah menjawab kritik – kritik itu?
Alkitab sendiri memakai pola-pola logika dan bukan semata dalam ranah meditatif-kontemplatif. Alkitab itu adalah logika Allah sekaligus merupakan hati Allah.
Saya setuju dengan apa yang anda tulis! Apakah anda berpikir bahwa saya saya tidak menggunakan logika? Atau apa maksud anda?
Lagipula mengapa secara filosofis teologis kita harus mengadu antara iman dan ilmu.
Well.........pertama apa dulu maksud anda dengan ilmu! Apakah identik dengan sains? Atau bagaimana? Juga definisi iman yang maksudkan di sini apa?
Kita seharusnya menduetkannya bukan menduelkannya.
Well, saya belum mengerti maksud anda dengan kedua kata yang anda miringkan di atas! Apakah menurut anda ’kebenaran’ sains itu mutlak? Semutlak kebenaran Alkitab?
Dan sains sendiri sebenarnya tidak pernah mendefinisikan dirinya sebagai kebenaran apalagi kebenaran mutlak.
Well…..apakah implikasi dari pernyataan ini bahwa sains adalah satu pribadi???? Sejauh pengetahuan saya sains sudah menjadi agama sendiri dengan hirarki keimamannya sendiri. Orang – orang yang tidak mempalajari filsafat sains hanya akan semakin termakan oleh lingkaran setan.
Makanya apa yang dianggap sebagai Tesis selalu ada Antitesisnya sehingga pada gilirannya menghasilkan Sintesa dan Sintesa sendiri kembali menjadi Tesis dan begitu seterusnya.
Pertanyaan saya sederhana saja darimana tahu bahwa proses ini akan terjadi seterusnya?????
Ilmu Pengetahuanpun tidak pernah menobatkan diri sebagai sebuah kemutlakan.
IP bukan pribadi mas! Orang – orang yang berada di balik itu yang menentukan ke mana arah sains.
Tetapi juga bukan berarti sains itu selalu keliru.
Secara logis kalau tidak mutlak benar apakah benar?
Baik anda mengakuinya sains punya nilai mutlak atau tidak bagi saya masih cukup melegakan, karena pada akhirnya anda masih memberi ruang bagi sains tetapi itupun saya tidak tahu sampai di batas mana dan karena apa.
Saya sudah katakan bahwa sains hanya memberikan hasil praktis tanpa kebenaran! That’s it! Alasannya apa? Well, (tolong ini jangan dianggap sebagai usaha saya untuk menggurui anda; ini hanya klarifikasi posisi saya), “Controlled Experiment” dan / atau “observasi” memiliki peranan penting dalam sains. Kedua “binatang” ini bermasalah dalam dirinya sendiri. “Controlled Experiment”; para ahli berusaha mempelajari apa yang terjadi di alam dengan memodelkannya di lab dan membuatnya sedemikian rupa sehingga menyerupai keadaan di alam dan semua faktor yang berpengaruh diukur/ diamati. Nah kemudian berdasarkan hasil ini dia mengambil kesimpulan dan kesimpulan ini katanya berlaku pula di alam (luar lab). Masalahnya adalah apa jaminan bahwa semua faktor yang mempengaruhi outcome sudah diperhitungkan? Tidak ada jaminan sama sekali! Sains hanya menjelaskan fenomena berdasarkan apa yang diamati oleh indera! Trus bagaimana dengan hal – hal yang tidak dapat diamati oleh indera atau alat bantu indera? Terus soal Pengamatan / observasi, apakah observasi itu dapat diandalkan (reliable)?? Kalau dapat diandalkan mengapa diperlukan lebih dari satu observasi? Kalau satu observasi tidak cukup, berapa observasi yang cukup? Siapa yang menjamin bahwa observasi sebanyak itu memberikan kebenaran???
Dan masih ada satu masalah lagi (saya tidak bosan – bosan mengingatkan anda untuk tidak berpikir bahwa aku sementara menggurui anda; aku hanya menjelaskan posisiku), mengenai hasil observasi, para ilmuwan memplot hasil observasinya ke dalam grafik dan menggambar sebuah kurva sebagai hasil. Terus berapa banyak garis yang bisa ditarik dari data yang diplot tadi?? Tak terhingga banyaknya! Tapi si ilmuwan hanya mengarik satu kurva. Darimana tahu bahwa yang ditariknya itu pasti benar???? Andaikata si ilmuwan berargumen bahwa itu dilihat dari trend, maka pertanyaan yang muncul adalah; hanya itu sajakah kemungkinan hasil yang akan dicapai????? Dan dia tahu dari mana?
Menduelkan iman dan ilmu hanya akan membuat kita sendiri kesulitan dan akhirnya terjebak pada sebuah sacraficium intelectum (atau malah kemunafikan intelek bahkan pengkhianatan praxis intelek) yang sudah terjadi dalam generasi muda kristiani belakangan ini.
Mas, saya tidak pernah menduelkan. Sori kalau tulisan saya memberi kesan seperti itu! Saya menempatkan masing – masing pada tempat yang seharusnya. Saya tidak alergi terhadap sains! Tapi sains harus ditempatkan pada posisi yang seharusnya.
Ilmu sekalipun 'terbatas' dia tetap adalah anugerah Allah.
Ilmu di sini pasti sains maksudnya. Well, saya setuju! Tapi sains tidak hanya terbatas tapi tidak pernah memberikan kebenaran tapi memberikan hasil! Alkitab adalah kebenaran Allah!
Jadi jangan terjebak pula pada perseteruan terhadap ilmu sedangkan kita sendiri hidup di dalamnya dan malah bergantung padanya.
Kalau mau 'menyerang' seranglah pada orang-orangnya. Man behind the gun. Bukannya 'gun"-nya!
Juga bukan saya karena saya tidak memaksudkan untuk memurtadkan orang, anggap saja itu "early warning system" yang kita bangun bersama dalam memelihara dan menumbuhkan iman sampai kedatangan-Nya yang kedua kali.
Saya harap dengan email ini anda akan jelas maksud saja!
Ingat! Tidak semua metode ilmiah itu keliru. Jadi jangan tekebur! Jangan salah tembak bung... nanti ketembak sendiri!
OK mas..mungkin anda bisa memberikan contoh dimana metode ilmiah tidak keliru!
So brother that is my position. If it disturbs you please let me know that we can discuss more later on!
The Triune God of Scripture Bless you richly
[snip]
Reply DZ ketiga
Bung [snip],
Saya sibuk pagi ini tetapi nanti akan saya balas via japri, karena kuatir teman-teman dimilis terganggu dengan forum kita berdua. Tetapi kalau mau melibatkan orang lain saya kuatir kita akan bergeser dari topik yang baru sama-sama kita ingin kita tetapkan qua definisinya. Setuju?
Omong-omong bung asal dari mana? Kayaknya dari fam bung saya kayaknya familiar deh ...
Sampai jumpa mudah-mudahan malam ini saya punya waktu untuk mendiskusikannya lagi ...
GBU
Reply Jesus Saves keempat
Halo [snip],
Thanks for the immediate reply! Aku setuju mas. Seperti aku katakan bahwa ini adalah diskusi internal antara dua orang Kristen. Trus, aku juga merasa senang kalau ada orang yang bisa koreksi aku. Aku sudah posting di beberapa tempat tapi nggak ada yang berani nanggapi. So, iron sharpening iron.
Aku berasal dai pulau [snip]. Umurku [snip] tahun tanggal [snip]. Pernah kuliah di [snip]. Aku juga anggota milist [snip] dan milis [snip]. Mungkin di milist ini anda lihat nama saya. Sekarang kerja di [snip]. Aku ke sini bulan [snip]. Sebelumnya aku tinggal di [snip]. Kontrak saya di sini sampai [snip].
So, mungkin [snip] tidak keberatan kalau memperkenalkan diri! Tapi kelihatannya anda dari [sni] juga, bukan?
Salam dalam Tuhan
[snip]
Reply Jesus Saves Kelima
Tambahan lagi bung,
Aku mungkin tidak akan bisa berdiskusi dalam dua minggu depan soalnya aku di [snip] kunjungi orang tuaku. Di tempat orang tuaku nggak ada listrik apalagi telepon. Aku berangkat besok (doakan ya!). Tapi malam ini aku sibut urus luggage So, mungkin diskusi kita akan delayed.
In Him
[snip]