Frase di atas merujuk pada kesalahan logika dimana sebuah kesimpulan diambil/dianggap benar karena kesimpulan itu belum terbukti salah.
Contoh:
1. Premis 1 : Anda berkata bahwa Allah tidak ada,
Premis 2 : Anda tidak dapat membuktikan bahwa Allah tidak ada.
Kesimpulan : Allah ada
Hanya karena seseorang tidak membuktikan bahwa Allah tidak ada, tidak berarti bahwa keberadaan Allah itu sudah terbukti benar. Diperlukan argumen yang lebih kuat daripada sekedar argumen di atas untuk sampai pada kesimpulan bahwa Allah ada.
2. Premis 1 : Anda mengatakan bahwa penyakit – penyakit infeksi (misalnya tifus, disentri, dll) ada hubungan dengan yang supranatural
Premis 2 : Anda tidak dapat membuktikan ada hubungan antara penyakit – penyakit infeksi dengan hal – hal yang bersifat supranatural
Kesimpulan : Penyakit – penyakit infeksi pasti tidak ada hubungan dengan sesuatu yang bersifat supranatural
Hanya karena seseorang tidak dapat membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara penyakit – penyakit infeksi dengan hal – hal yang supranatural tidak berarti bahwa memang tidak ada hubungan antara keduanya. Bisa saja orang tersebut memang tidak memiliki alat dan cara untuk membuktikan hal itu, walaupun sebenarnya ada hubungan antara keduanya. Diperlukan argumen yang lebih kuat daripada itu untuk sampai pada kesimpulan di atas.
Andaikata pun premis 2 diganti dengan: “Sains membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara penyakit infeksi dengan hal – hal yang supranatural”, itu tidak membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara penyakit infeksi dengan hal – hal yang bersifat supranatural karena sains secara definisi mempelajari fenomena – fenomena yang tampak dan berusaha menjelaskannya hanya dengan menggunakan kategori – kategori yang bersifat natural bukan supranatural. Dalam sains, aturan dasar adalah jangan berusaha menjelaskan fenomena – fenomena yang ada dengan merujuk kepada sesuatu yang supranatural. Jadi dengan sains kita tidak akan sampai pada kesimpulan itu.