Jesus is the Only Saviour/ Yesus Satu-Satunya Juruselamat

Blog EntryHUKUM LOGIKA ADALAH KEHARUSAN DALAM KEHIDUPANOct 16, '06 6:15 AM
for everyone

Ini adalah hasil transkripsi ke Bahasa Indonesia dari kuliah yang disampaikan Ravi Zacharias di satu forum di Afrika Selatan yang bertema ”The Uniqueness of Christ”. Kuliah ini dapat didownload dalam versi mp3 di www.rzim.org. Kuliah ini sudah saya download sebelumnya.

 

Dalam bagian ini Ravi membahas apa yang pernah dialaminya pada saat ditantang oleh seorang profesor penganut agama Panteisme Timur (yang di dalamnya termasuk Hindu) di Amerika Serikat. Si profesor tidak mengakui hukum kontradiktif sementara Ravi mempertahankan hukum logika kontradiktif. Hukum kontradiksi mengatakan ”A tidak mungkin Non A pada saat yang sama dan hubungan yang sama”. Contoh: Saya tidak dapat mengatakan; ”mobil saya sudah dijual” dan ”mobil saya tidak dijual’ pada saat yang sama dengan merujuk kepada satu mobil yang sama. Tetapi itu baru bisa dikatakan kalau saya memiliki lebih dari satu mobil atau dengan kata lain hubungannya tidak sama lagi.

 

Pada akhirnya jelas si profesor harus dipermalukan oleh Ravi. Namun untungnya adalah dia tidak dipermalukan di depan umum tetapi dalam pembicaraan di dalam restoran. Berikut transkripnya yang saya diindonesiakan:

 

Saya ingat pernah berbicara, [bagi mereka yang sudah mendengar kisah ini saya mohon bersabar], tapi contoh ini adalah contoh yang paling tajam yang dapat saya berikan. Saya ingat pernah berbicara di salah satu kota bagian barat Amerika Serikat yaitu saat satu profesor dari salah satu universitas di sana meminta saya untuk berbicara mementang salah satu agama Timur. Saya katakan saya tidak akan melakukannya.

 

Dia berkata,

”Saya adalah seorang Amerika dan penganut dari agama itu”

Mari kita sebut saja X.

Dan dia berkata,

”Saya telah mengajarkan agama tersebut dalam kuliah – kuliah saya dan pada kesempatan lain, dan saya ingin anda berbicara mengenai mengapa anda tidak setuju dengan dogma (ajaran) dari agama X dan mahasiswa – mahasiswa akan menyerang dan menghancurkan anda setelah kuliah anda.”

 

Saya menjawab,

”Tidak, saya benar – benar tidak ingin melakukan itu.”

 

Saya katakan,

”Saya belajar bahwa bukan saja tangan anda akan kotor apabila anda melempar lumpur / tanah kepada orang lain, tetapi juga ada akan kehilangan banyak tanah tempat berpijak.”

 

Dia menerima itu.

 

Saya katakan,

”Tetapi saya akan katakan kepada anda mengapa saya menjadi Kristen. Saya akan berbicara tentang pokok ini.”

Pada akhir kuliah saya, dia cukup keras menentang apa yang saya katakan. Di depan orang yang menghadiri kuliah tersebut dia menyerang dan mengatakan saya tidak memahami logika dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Saya katakan kepadanya,

”Lihat, kita tidak akan bisa maju dalam pembicaraan ini. Bagaimana kalau kita pergi makan saja. Anda yang bayar dan saya yang berdoa.”

 

Lalu kami bertemu dan pergi makan siang bersama. Dia membawa seorang profesor psikologi bersamanya. Si profesor psikologi dan saya sudah menghabiskan makanan, sementara si filsuf belum menyentuhnya sama sekali. Makanannya sudah mengeras di depannya. Dia mengambil semua tisu di atas meja itu untuk memberikan gambaran tentang argumennya.

 

Dan pada dasarnya yang dia katakan adalah: Ada dua jenis logika. (sebenarnya dia salah karena ada lebih dari dua logika). Namun dia berkata bahwa ada dia hukum logika. Satu adalah hukum non kontradiksi. Hukum non kotradiksi berarti bahwa kalau sesuatu benar maka yang bertentangan dengan itu pasti salah. Kalau sesuatu benar maka yang bertentangan dengan itu pasti salah. Hukum ini disebut logika ”ini atau itu”. Sebagai contoh, kalau saya mengatakan kepada anda bahwa ada mobil merah yang diparkir tepat di bagian luar dari tangga yang di sana, maka kalau pernyataan itu benar pernyataan yang sebaliknya pasti salah. Saya tidak dapat mengatakan pada saat yang sama bahwa mobil merah tidak diparkir tepat di luar tangga tersebut. Jadi hanya ada kemungkinan ”benar atau salah”. Dengan ilustrasi yang lebih sederhana dapat digambarkan sebagai: Jika A maka bukan Non A pada saat yang sama. Jadi itu adalah dogma ”ini atau itu”.

 

Dan dia berkata,

”Ravi, itu adalah hukum non kontradiksi. Itu adalah ”ini atau itu” Dan itu adalah cara berpikir orang Barat. Orang Barat berpikir ’ini atau itu’”

 

Saya berkata,

”Saya tidak setuju dengan bagian terakhir, kenapa anda tidak mencoretnya saja!”

 

Namun dia menolaknya. Kemudian dia berpindah ke cara berpikir Timur.

 

Dia berkata,

”Di Timur anda menggunakan logika ”ini dan itu”. Logikanya adalah logika dialektik. Anda tidak berkata ”ini” atau ”itu”, tetapi mengatakan kedua – duanya. Karl Marx menggunakan sistem dialektik, bukan pemberi kerja atau pekerja, tetapi keduanya. Mereka digabungkan menjadi satu dan anda mendapatkan masyarakat tidak berkelas.”

 

Lucunya, mereka tidak pernah menunjukkan masyarakat semacam itu, tetapi mereka begitu getol berbicara tentang hal itu yaitu mengatakan bahwa ada dogma dialektik dalam argumen tersebut.

 

Lalu dia berkata,

”Anda lihat Ravi, sistem dialektis bersifat Timur, sistem kontradiksi bersifat Barat.”

 

Saya menjawab,

”Mengapa anda tidak mencoret saja kalimat itu, saya tidak setuju.”

 

Namun dia menolak untuk mencoretnya. Yang ingin dikatakannya adalah demikian. Saya telah berbicara tentang begitu banyak kontradiksi dalam pandangan panteistik tertentu. Kontradiksi yang sangat tajam.

 

Dia berkata,

”Anda lihat Ravi, jika anda menganggap sistem dialektis benar, maka setiap saat anda menemui kontradiksi, anda tidak akan heran akan hal itu. Anda berkata itu adalah cara berpikir mereka. Mereka menerima dua pernyataan yang bertentangan dan menganggap keduanya benar. Jadi jika anda menanyakan kepada satu pengikut agama X apakah Allah itu bersifat Pribadi, dia menjawab ya. Kalau anda menanyakan pertanyaan tersebut kepada orang kedua yang juga pengikut agama X, dia menjawab tidak. Lalu anda bertanya kepada orang ketiga siapa di antara kedua orang ini yang benar dan dia akan menjawab bahwa keduanya benar. Itu adalah cara berpikir Timur. Jadi kita memiliki ada ’ini atau itu’ yang merupakan sesuatu yang bersifat Barat dan sistem ’ini dan itu’ yang merupakan cara berpikir orang Timur.”

 

Dia terus menerus saja berbicara dengan eloknya.

 

Akhirnya saya berkata kepadanya,

”Bolehkah saya mengatakan sesuatu pada anda tuan?”

 

Dia mengatakan ”Ya” lalu dia mengambil pisau dan garpunya dan mulai memotong makanannya.

 

Pada saat dia sementara memotong makanannya saya berkata,

”Ini yang anda katakan kepada saya, ada sistem ”ini atau itu” yang bersifat Barat dan sistem ”ini dan itu” yang bersifat Timur, dan anda ingin saya mempelajari agama X, bukan? Ini pertanyaan saya kepada anda doktor, Apakah anda mengatakan kepada saya bahwa pada saat saya mempelajari agama X, saya harus menggunakan sistem ’ini dan itu atau tidak sama sekali, benar khan?”

 

Anda tahu apa yang dia lakukan? Dia meletakkan pisau dan garpunya, dan dengan ekspresi wajah yang sangat gugup (andaikan saya mempunyai kamera untuk mengambil gambarnya) dia berkata kepada saya,

”Sistem ’ini atau itu’ tampak muncul dengan sendirinya, bukan?”

 

Saya berkata kepadanya,

”Ya doktor, sebenarnya saya mempunyai berita yang sangat mengejutkan buat anda. Bahkan di India, mereka melihat ke kiri dan ke kanan sebelum menyeberang jalan. Bis yang lewat atau saya yang lewat. Bukan kedua – duanya [secara bersama – sama melewati jalan yang sama].    

 

Anda paham apa yang dia lakukan? Dia menggunakan sistem “ini atau itu” untuk membuktikan sistem ”ini dan itu”. Dia sangat terkejut mendapati bahwa dia menggunakan sistem ”ini atau itu” setiap hari. Jadi hukum kontradiksi tidak ada hubungan dengan apakah seseorang berasal dari Timur atau Barat, tetapi hukum kontradiksi merupakan sesuatu yang paling baik merefleksikan realitas.

 

......hal itu sangat dipahami oleh pemikir – pemikir Timur, karena itu mereka berkata, ”pada saat mulut dibuka, maka semuanya bodoh”. Tetapi mulutnya terbuka untuk mengatakan itu.

 

Atau seperti yang dikatakan salah satu penganut mistik terkenal,

 “Dia yang paham tidak berbicara dan dia yang berbicara tidak paham.”

 

Lalu, apakah dia berbicara? Dan kalau dia berbicara, maka berarti dia tidak tahu. Dan kalau dia tidak tahu, apakah ada artinya sama sekali kalau dia berbicara?

 

Jadi, hukum kontradiksi harus diterapkan terhadap realitas. Kalau anda menolaknya, maka anda berakhir dengan berbicara tentang tongkat yang hanya memiliki satu ujung.

 

 

Catatan saya:

Pertanyaan besarnya adalah apakah pemimpin – pemimpin kristen atau orang – orang kristen menggunakan logika? Atau apakah mereka dengan rajin berpikir secara benar dan logis? Atau apakah mereka dengan berusaha mempelajari logika kalau andaikata mereka kurang paham? Kelihatannya tidak.

 

Pada saat berbicara tentang logika orang Kristen dan bahkan pemimpin Kristen sekalipun akan mengacaukannya dengan sains dan kadang – kadang secara tidak sadar berpegang pada filsafat – filsafat yang bodoh sehingga beranggapan bahwa sains adalah logika atau beranggapan bahwa empirisisme adalah logika. Atau ada yang menganggap filsafat naturalisme sebagai logika.

 

Harus ada orang – orang yang dengan tekun mendoakan gereja supaya muncul orang – orang yang dipakai Tuhan untuk mengajar umat Tuhan untuk berjalan dalam Kebenaran bukan dalam kebodohan dunia ini.


ndarusi wrote on Jul 22
saya sangat tertarik dengan kata" validitas dan reliabilitas" yg sering anda katakan . memang kita sering trbntur oleh kata2 itu, bahkan ketika kita sedang menyajikan penelitian ilmiah, krn memang itu kata2 ilmiah. sedangkan biasanya - biasanya loh- bbrp teman kristen yg berdiskusi mengatakan bahwa bbrp dogma penting kristen terima saja dengan iman walau mustahil. sehingga saya trtarik jg diskusi dgn anda nih hehe.

klo begitu pertama2 saya ingin dgr penjelasan anda ttng trinitas, sesuai dengan yg anda yakini sekarang. saya sangat mnjunjung tinggi akal, jadi saya akan " ngacir" jika sekiranya diskusi ini gk masuk logika atau nggk valid. sebisa mngkin kita mngmbil referensi yg disetujui kedua belah pihak.
ok, sekian.
" bertanyalah, sebab obat kebodohan itu adalah bertanya" al hadist
jesusalone wrote on Jul 23
ndarusi said
saya sangat tertarik dengan kata" validitas dan reliabilitas" yg sering anda katakan
Terima kasih sudah tertarik. Kalau anda tertarik saya harap anda bisa menggunakan konsep itu dalam diskusi. OK???
jesusalone wrote on Jul 23
ndarusi said
memang kita sering trbntur oleh kata2 itu, bahkan ketika kita sedang menyajikan penelitian ilmiah, krn memang itu kata2 ilmiah
Maksud anda dengan terbentur itu apa? Apakah artinya anda sulit mengungkapkan sesuatu karena kata-kata itu digunakan? Atau apakah maksud anda bahwa kata-kata itu sering muncul karena itu anda sulit berargumentasi? Atau apa maksud anda?
jesusalone wrote on Jul 23
ndarusi said
edangkan biasanya - biasanya loh- bbrp teman kristen yg berdiskusi mengatakan bahwa bbrp dogma penting kristen terima saja dengan iman walau mustahil
Silahkan sebutkan dogma yang anda maksudkan?
jesusalone wrote on Jul 23
ndarusi said
klo begitu pertama2 saya ingin dgr penjelasan anda ttng trinitas,
Trinitas adalah doktrin dalam kekristenan yang mengatakan bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi yang sama-sama memiliki satu esensi ke-allahan/divinity. Dan di sini tidak ada pelanggaran terhadap hukum logika. Kalau anda mengatakan ada pelanggaran terhadap hukum logika, silahkan tunjukkan hukum logika yang mana yang dilanggar dan bagaimana hukum itu dilanggar!

jesusalone wrote on Jul 23
ndarusi said
sehingga saya trtarik jg diskusi dgn anda nih hehe.
Anda diijinkan! Tapi kalau anda ngaco, saya akan ban anda dari blog saya. Selamat berdiskusi!
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help